________
setelah pertemuan kedua, rupanya
komunikasi kami semakin hari semakin lancar bak air sungai yang mengalir, voice
dan video call setiap hari terjadi, setelah sholat isya Ponselku selalu
berdering yang menjadi pertanda panggilan masuk dari kedua cowok kosong yang
mengisi malamnya untuk menggangguku atau hanya sekedar mengajakku bertengkar
dengan obrolan gila mereka, but aku tak keberatan dengan itu karena akupun
menyukai panggilan itu, selain bisa berbagi canda tawa atau berdebat kita juga
saling berbagi ilmu ntah itu soal agama, sosial atau pengetahuan lainnya. Kali
ini malam mingguku ku habiskan dengan PW-an (posisi wenak) di atas ayunan
hammock yang ku gantung di teras rumah sambil menikmati hembusan angin yang
datang dari arah laut, memandang langit yang di hiasi bintang-bintang, bulan
yang hanya nampak stengah membentuk sabit yang indah, rumahku tak jauh dari
pelabuhan hanya berkisar beberapa meter dari gerbang pelabuhan, sehingga
hembusan angin laut sangat terasa, dari kecil aku sudah terbiasa dengan air dan
pantai keduanya menurut ku adalah moodbooster, desiran air laut yang menuju
bibir pantai begitu riuh di telinga, hembusan angin yang membawanya pun begitu
menyegarkan, membuat ku tenang, damai, dan pastinya bahagia. mungkin karena
alasan ini pula aku sangat menyukai pantai terlebih saat senja mulai
menampakkan diri meski hanya sekejap tapi keindahan yang disuguhkan sungguh
menghipnotis para penikmatnya terkhusus diriku sendiri. Aku bangga menjadi anak
pesisir, selain suasana yang menyejukkan aku juga bisa bermain air sepuasnya
menikmati kesegaran alami tanpa polusi. Handphone ku berdering membuyarkan
focusku pada langit yang gelap dengan pikiran flashback akan masa kecilku. Ku
raih ponselku dan mengangkat telpon dari kedua cowok kosong yang kurang kerjaan
ini, malam mingguku kali ini di isi oleh mereka berdua yang mengajakku
bertengkar atau bisa jadi mengajakku taruhan untuk hal-hal konyol.
"Oioioi" sautku
"Ki', udah di angkat tuh!" Kak wawan memulai
"Ehh, si cewek kosong yang Malmingnya di rumah doang dasar jomblo"
kak rifki mulai menaruh gendera perang
"Ehhh bodoamat jomblo gini juga yang penting mah bahagia, emang situ
berdua udah kosong, jomblo ngenes lagi HAHAHA" bantahku sambil tertawa
"wah ngajak perang nih anak ki, kayaknya perlu di kader ulang deh biar
bisa hormat dikit ke seniornya" saut kak wawan mulai kepancing
"Dasar cowok kosong bleee" ejekku
"Oh, sepertinya bsok ada yang udah jadi almarhum ni wan" saut kak
Rifki dengan dialek asli Palopo
Aku dan kak wawan tertawa mendengarnya,
"Belum tau dia ki, bentar lagi ada surat kabar yang terbit seorang junior
mendapatkan azab tertimbun gas LPJ 3 Kg setelah mengejek seniornya" kak
wawan menimpali.
kita semua tertawa, hanya dengan obrolan
seperti ini membuatku benar-benar happy se-sederhana dan sereceh inilah selera
humorku tapi berkesan, lelucon mereka receh tapi ntah kenapa membuatku jadi
lebih bahagia aja.
"eh ada kabar baru apa nih di
palopo?" tanya kak Rifki
"kabar barunya kemarin rumah sakit
umum terbakar 3 mayat kabur menyelamatkan diri, suster dan dokter alhamdulillah
semuanya selamat!" jawabku dengan expresi dan intonasi serius
"HAHAHA kamvret ini bocah kayaknya
minta ditenggelamin yah?" timpal kak Wawan.
"tunggu gua di palopo dek bentar
lagi gua cubit ususlu" saut kak rifki dengan nada mengancam yang di
selingi dengan tawa.
"eh taruhan nyok, tembus pagi yang
kalah dapat hukuman gimana?" ajakku
"taruhannya apa ini?" tanya kak
Wawan
"taruhannya yang duluan tidur
berarti kalah, batas waktu sampai jam 6 pagi telfon baru bisa mati,
gimana?" jelasku
"woey gua kerja njir!" komplain
kak wawan
"wah ok gua setuju itu, yang kalah
harus ngapain ini" saut kak rifki
"wah gua nggak ikut deh, besok gua
ngantor" kak wawan nyerah
"huuuuuu, dasar cendol baru juga
gitu udah nyerah, laki-laki palsu" provokatorku
"aku besok kerja nenek, cekloknya
jam 8, taukan makassar macetnya sebelas-duabelas sama jakarta, belum lagi urus
diri, masak sendiri, nyuci sendiri semua serba sendiri" protesnya lagi
"makanya nikah, biar ada yang
ngurus" timpal kak Rifki sambil tertawa
"hahahaha dasar cowok kosong,
laki-laki palsu, makanya nikah pak di segerakan biar ada yang ngurus"
sautku sambil terbahak
"kalian mah kompak yah berdua suka
tertawa di atas penderitaan orang lain" sautnya merasa terdzolimi.
aku dan kak Rifki hanya tertawa mendengar
ocehan tak jelasnya yang seolah-olah terdzolimi oleh kami berdua.
"eh jadi gimana ini taruhannya
setuju nggak?" tanya kak Rifki.
"aku sih yes, kak Wawan tuh gimana,
sanggup plus berani nggak?" sautku dengan nada menantang
"ok sanggup aku ikut
taruhannya" jawabnya dengan tegas dan tak mau kalah
"ok jadi taruhannya yang tidur
duluan sebelum jam 6 bakalan kena hukuman yak panggilan masih terus berlanjut
sampai pukul 6 pagi tak ada alasan apapun, jika telfonnya mati yah telfon balik
pokoknya tanpa alasan apapun and then hukumannya di buat perorangan asal jangan
yang aneh-aneh awas aja kalau aneh-aneh aku laporin ke komnas HAM loh aku masih
17 tahun ingat yah kakak-kakakku sekalian haha" ancamku sambil cengengesan
sambil menjelaskan aturan main.
"dasar anak kecil, iyak paham ok pembahasan
di mulai pokoknya awas saja kalau kalian berdua yang tidur 100% kalian akan
menyesal" ancam kak wawan
" hukuman dari aku yang kalah
silahkan cuci baby pinky (motor kesayanganku yang menjadi partner jalanku yang
paling setia) sampai kinclong ini untuk kak Rifki, untuk kak wawan apa yah??
aku pikir-pikir dulu yak" saut ku sambil berpikir
"aku kalau yang kalah methaa harus
cuci motor plus bikinin kue atau masakin masakan yang paling enak, untuk wawan
apa yah? gimana kalau lu jadi asisten gua seharian wan? hahaha"
"anjir gua jadi pembantu lu kali,
kalau gua yang menang hukuman buat metha sama cuciin motor juga + hukuman
selanjutnya nanti bakal gua kasih tau kalau udah menang but kalau gua kalah
methaa harus suapin gua begitupun kalau gua menang tetap di suapin, gimana?
untuk rifki ok gua bakal beliin lu bahan kue dan metha yang olah bahan itu
gimana?" tantangnya
"wah nggak adil dong kak menang
banyak itu mah" protesku
"udah jangan protes terima aja
karena gua yang bakalan menang" tegasnya dengan penuh percaya diri.
"simppan PD anda baik-baik karena
yang menang it pasti aku"
"udah jangan ribut karena yang
menang itu pasti aku kalian siapkan diri saja buat bersihin motor gua"
timpal kak rifki di tengah perdebatan aku dan kak Wawan.
"udah permainan di mulai dari
sekarang titik nggak pakai koma lagi." sautku
kami bertigapun tertawa sambil menikmati
games konyol yang sama sekali tidak berfaedah ini. semuanya bisu, yang
terdengar hanya suara gemuruh kipas angin dari balik telfon kak Wawan sementara
di balik telfon kak Rifki alunan musik ST 12 yang menggema begitu keras. dan
aku sendiri hanya menikmati bacaan quotes yang ada di galeri hpku diselingi
menatap langit yang di hiasi kilauan bintang-bintang. kami sengaja tak ingin
berbicara biar hasilnya yang jawab siapa yang akan mendapatkan hukuman diantara
kami bertiga. ku yakin sih bukan diriku. aku sudah terbiasa dengan dunia
kalelawar yang menggunakan siang hari untuk beristirahat dan malam harinya di
gunakan untuk berburu makanan. bedanya aku tak berburu makanan melainkan
mengerjakan tugas akhir atau hanya untuk menghabiskan drama korea yang slalu jadi
tontonan favoritku. waktu terus berjalan aroma-aroma kekalahan mulai tercium
dari kedua sainganku ini, kak Rifki mulai tak bersuara begitu pun dengan kak
wawan aku tak ingin menegur mereka biar mereka yang menegurku, jam menujukkan
pukul 02.30 masih ada tiga setengah jam lagi sebelum games taruhan konyol ini
berakhir. aku mulai memanggil para sainganku ini berharap mereka berdua sudah
tertidur pulas namun rupanya mereka masih berada di dunia nyata. 15 menit
kemudian ku panggil lagi mereka hanya untuk memastikan kesadaran mereka, dan
ternyata suara dengkuran dari salah satu sainganku ini membuatku terbahak ku
pastikan pemilik suara dengkuran itu dan ternyata dia adalah kak Wawan aku dan
kak Rifki saling tertawa, merasa kemengan ada di tangan kami berdua, tidak
sampai di situ aku dan kak Rifki masih melanjutkan games konyol ini untuk
mencari pemenang yang sesungguhnya. kami sibuk dengan dunia masing-masing hanya
sesekali saling menegur untuk memastikan kesadaran masing-masing. tak terasa
adzan subuh sudah berkumandang pertanda sebentar lagi sang fajar akan
menampakkan diri. aku dan kak Rifki sepakat untuk melaksanakan sholat subuh
dulu namun telfon harus tetap berlanjut segera aku menuju toilet mengambil air
wudhu dan melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim. 15 menit berlalu aku
sudah selesai, kebiasaan ku setelah malaksanakan sholat tak lupa menyisipkan
waktu 5-8 menit untuk membaca al-qur'an sebanyak 10 ayat. aku kembali mengambil
handphoneku dan menyapa kak Rifki ternyata ia lebih dulu selesai akupun
berbincang-bincang sebentar sebelum games berakhir. telfonnya juga masih
tersambung dengan kak Wawan yang masih asyik dengan mimpi indahnya, suara
dengkuran nya menegaskan feelingku, aku dari tadi trus memanggilnya berharap
dia bisa bangun dan melaksanakan sholat subuh namun rupanya tidurnya begitu
nyenyak mungkin karena kelelahan, ku akui hari ini dia kerja keras melayani
customernya. Dia adalah salah satu pegawai perusahaan swasta di Makassar yang
bergerak di bidang teknologi, dia memang tipe cowok pekerja keras aku
mengetahui ini melihat dari aktivitasnya yang selalu ia ceritakan baik via
telfon maupun chat. kak Rifkipun juga seperti itu tipe cowok pekerja keras
bedanya kak Rifki masih sama sepertiku berjuang untuk beberapa tambahan huruf
di belakang nama, dia tiga tahun di atasku sama dengan kak wawan namun kak
wawan menyelesaikan studinya lebih dulu. aku tak ingin membandingkan keduanya
karena setiap orang memiliki passion yang berbeda begitu juga dengan
perspektifnya, yang jelas mereka sama-sama berusaha untuk masa depan yang lebih
baik, mereka juga memiliki jurusan dan skill yang berbeda aku tak ingin menjadi
tuhan di antara mereka yang menjudge dan membandingkan satu sama lain karena
aku percaya setiap orang memiliki garis takdir dan jalan sendiri yang sudah
dikemas dengan baik oleh sang pencipta. ku lanjutkan percakapan ku dengan kak
Rifki.
"halo kak,"
"ehh aku pikir kamu sudah langsung
tidur."
"heheh nggak lah, kan perjanjiannya
jam 6, ini masih ada 45 menit lagi."
"iyya, jadi siapa nih
pemenangnya?"tanya kak Rifki.
"kita berdua dong kak haha, yang
jelas sebentar lagi kita akan menghukum seseorang" sautku
"ya sudah kamu silahkan tidur,
gamesnya biar di akhiri sampai disini saja, besok kamu juga harus kerja kan.
aku juga ada jadwal kuliah besok jam 9." pintanya
"ok kak jadi gamesnya sudah berakhir
yah dan pemenangnya kita berdua kan?" pastiku.
"ia besok di lanjut lagi, udah sana
tidur dek udah masuk pagi juga ini"
"ok kak, aku pamit duluan yak
selamat ber istirahat, wassalamu alaikum" pamitku
"iya,waalaikum salam" jawabnya
telfonpun terputus.waktu menunjukkan
pukul 5.45 aku menuju kamarku, masih ada beberapa jam yang bisa ku gunakan
untuk beristirahat sebelum kembali beraktivitas seperti biasa. ku cahrger
handphoneku yang sudah mulai lowbat, aku pun merebahkan badan mungilku di atas
kasur yang berselimut sprei ungu hingga kesadaranku mulai hilang.
******
waktu menunjukkan pukul 8.00 segera ku
tarik baju mandiku dan berlari menuju kamar mandi. aku bersiap-siap untuk
kembali beraktivitas seperti biasa. hp ku masih tercharge dan sampai sekarang
belum sempat ku lihat, aku menuju dapur membuat sereal untuk sarapan pagiku.
setelah memberikan kewajiban pada lambung aku bersiap-siap menuju kantor
tempatku mengais rezeki. alhamdulillah salah satu kesyukuranku takdir yang
tuhan berikan padaku begitu baik aku meski masih kuliah sudah bisa bekerja di
salah satu instansi pemerintah yang ada di kotaku meski hanya sebagai honorer
aku sudah sangat bersyukur, setidaknya aku bisa meringankan beban orang tua ku
dalam membiayaiku, aku bukan tipe anak seperti pada umumnya yang hanya bisa
menikmati dan menghabiskan hasil kerja keras orangtua, dari awal semester 2 aku
sudah menikmati rasanya bekerja sambil kuliah, pertama kali aku bekerja di
salah satu cafe milik pembina sanggar seniku berkat pengalaman ini aku banyak
belajar tentang hidup, dan mulai diri sinipun aku sudah bisa meringankan beban
orang tuaku membayar sppku, dari kecil ayah & ibuku selalu mengajarkanku
untuk mandiri, jika menginginkan sesuatu aku harus berusaha sendiri ntah itu
menyisipkan uang jajanku, atau aku harus berusaha membuat sendiri apa yang aku
inginkan, dan dari sinipula lah jiwa kreatifku lahir. beberapa menit telah
berlalu aku mengambil tas mencabut hp dan charger, ku tarik kunci motorku dan
menuju kantor. tiba di kantor aku baru mengecek hp ku dan ternyata 3 panggilan
tak terjawab dari kak wawan dari 2 jam yang lalu, ku whatsapp dirinya.
"maaf kak aku baru pegang handphone,
tadi hpnya aku charger btw knpa?"
"nggak dek kirain belum bangun"
balasnya
"oh hehehe alhamdulillah udah kak
btw tadi aku udah bangunin loh shalat subuh tapi tidurnya nyenyak bet dah
sepertinya kecapean yah kak?"
"eh, iya tadi dibanguninnya juga
sama ibu, shalat subuhnya telat hehe"
Aku dan kak Wawan sebelumnya sudah punya
janji untuk saling mengingatkan dan membangunkan sholat subuh dan sholat wajib
lainnya, perjanjian ini lahir karena alarm tak mempan menembus gendang telinga
kami berdua terkadang juga karena kami biasa keasyikan kerja hingga tak
mendengar adzan, chatpun berlanjut sembari melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Chapter IV VOICE AND VIDEO CALL PART II