khayalan yang ku anggap nyata
Malam yang begitu dingin di kota kecil yang menjadi kota idaman kota yang menjadi saksi dari perjalanan hidupku entah itu tentang keluarga, sosial, politik dan bahkan cinta, air yang mulai turun secara perlahan dari langit yang penuh bintang namun tertutup oleh awan hitam membasahi jalanan kota kecil nan asri. aku terpuruk dalam pelukan guling yang ada di kasurku bersembunyi dalam gelapnya malam hingga fikiran itu terbersit dalam otakku,kisah-kisah perjalanan, kenangan-kenangan yang pernah ku alami yang pernah terjadi mulai terbersit dalam memori kecil di otakku.
Pada awalnya aku bahagia dengan semua yang terjadi setelah hujan badai itu datang dan membuat linangan di pelupuk mata yang bagaikan petir dahsyat menembus jantung hati. awalnya memang penuh warna seakan-akan matahari bagai mukjizat dari sang maha kuasa tetapi seiring berjalannya waktu seiring berjalannya denting jam kebahagiaan itu mulai redup secara perlahan bagaikan matahari yang awalnya bagaikan mukjizat kini perlahan-lahan mulai tenggelam bak di telan malam, aku berfikir apa semua ini ?
aku mulai menyalahkan sang maha kuasa untuk apa kebahagiaan sesaat itu, untuk apa pelangi yang hanya sekejap di mata hadir dengan percuma,untuk apa Tuhan mengirim dia yang ternyata khayalan yang ku anggap sebagai kenyataan ? otakku mulai penuh akan pertanyaan-pertanyaan kepada sang maha kuasa.
apa salahku apakah aku harus menyalahkan cinta atau mungkin aku yang terlalu cepat percaya kepada dia yang merupakan pahlawan dalam mimpi semu itu. air bening itu terus mengalir dari pelupuk mata langit-langit kamar yang dari tadi ku tatap dengan hati yang penuh dengan rasa sesak menahan sakit yang tak bertuan kini mulai terlihat samar-samar hingga akhirnya mata itu merasa lelah dan akhirnya terpejam dengan sendirinya.
saat pagi menjemput bersama dengan mata sembab hasil dari luka yang terlampiaskan dengan tangisan aku mulai beranjak dari istanaku menuju salah satu kampus yang ada di kota kecil ini dengan mengendarai mobil pribadi kado ulang tahun dari ayahku setahun yang lalu, aku memulai aktifitas seperti biasa namun dengan kondisi yang berbeda, yah kondisi dimana otak masih kacau, perasaan tak karuan dan kehidupan serta kesehatan yang masih belum stabil. aku harus kuat hidup tidak akan berhenti hanya karena persoalan hati. memotivasi diri adalah jalan yang terbaik. aku bergumam dalam hati, putus cinta bukan berarti kehidupanpun akan terputus, cinta boleh kandas tetapi kehidupan harus tetap berlanjut saatnya fokus meraih cita. karena kesuksesan akan mengundang cinta yang berkelas. semangat itupun seakan-akan membara kembali. aku akan membuat perubahan dalam hidup ini, tapi lagi-lagi itu hanyalah kalimat penenang oleh hati yang tak mampu ku lakukan, hatiku dengan mudah mengatakannya tapi mengaplikaskannya dalam hidup ini sungguh diluar dugaanku, aku tak sanggup aku terlalu rapuh hatiku tidak sekuat baja linangan air bening itu kembali membasahi wajah ku tepikan mobilku pada bahu jalan dan suasana sepi pun sangat mendukung dengan hujan rintik yang membasahi jalan, aku merindukanmu aku mencintaimu kalimat itu pun tak sadar terucap dari bibirku, aku menunduk menyandarkan kepalaku pada stir mobil, bayangan wajahnya kini hadir kembali aku muak dengan semua ini, hatiku bergumam memberontak, kunyalakan mesin mobil dan memutar arah menuju tempat ternyaman yang selalu menjadi pelarian ku,Pantai yah hanya Pantai yang mampu menjadi tempat curahan terbaik hanya pantai yang mampu mengerti hatiku, aku berlari dibawah rintikan hujan dengan air mata yang begitu deras mengalir di pipi, aku tersandung hingga aku jatuh ke pasir putih aku berteriak sekencang-kencangnya Tuhan apa semua ini mengapa semuanya begitu sulit?aku lelah dengan semuanya,,,, akupun menangis dan menepi memeluk sepasang lututku di bawah derasnya hujan dan airmata. kini hujan tak rintik lagi iapun membasahi bumi dengan air yang begitu deras seakan-akan mengerti dengan apa yang ku rasakan....