Senin, 07 November 2016


KENANGAN DALAM PENA


                Waktu itu tepat pada malam sabtu tanggal 22 Oktober pukul 18.30 Wita. aku bersama kakakku berjalan menuju sebuah warnet yang terletak hanya beberapa meter dari rumahku. tak butuh waktu lama untuk sampai di sana, setibanya aku dan kakakku langsung membuka website, yah untuk enam tahun yang lalu anak remaja se-usiaku memang selalu berada atau mangkal di warnet tepat didepan benda yang mampu menyambungkan komunikasi dengan orang yang tak mungkin kita jangkau dengan tangan , benda apalagi kalau bukan komputer yang tersambung dengan wi-fi atau wireless.keasyikan bersorak ria di media sosial membuatku lupa waktu, tak terasa waktu menunjujukkan pukul 8 malam, aku dan kakakku melog-out semua akun sosial media kami lalu  bergegas  meninggalkan warnet.

              oh iya sampai lupa, perkenalkan namaku metha junia amri, teman-temanku biasa memanggilku tha-tha atau ittha'. aku adalah seorang remaja yang menurut teman temanku sosok perempuan mungil yang memiliki suara cempreng nan lantang sehingga apabila mendengarnya membuat telinga jadi sakit hihi, aku anak sulung dan kakakku yang ku maksud diatas tadi adalah spu-puku. mengenai aku lebih lanjut semua akan tertumpahkan dalam cerita, oke sekarang kita lanjut ceritanya.

                    ketika hampir tiba di rumah, aku melihat 3 orang dimana 1 wanita dan 2 pemuda yang belum pernah ku lihat sebelumnya berada di depan rumahku dan berbincang-bincang bersama adikku. lalu tiba-tia adikku menunjukku dari kejauhan dan 3 orang itu spontan berbalik secara bersamaan melihatku. aku yang dipenuhi tanda tanya mendekati mereka.

"permisi ... ada apa yah ?" tanyaku penasaran.
"oh iya maaf sebelumnya apa benar kamu yang bernama ittha' ?" saut salah satu pemuda yang
 bertubuh tinggi dan mempunyai alis yang tebal.
"iya, ada apa yah ? " tanyaku kembali
" begini, tadi lea menelfon saya, dia pesan katanya ingin menghubungi kamu dan meminta nomor kamu." saut dia lagi yang akupun tak tahu namanya
" oh lea yang sekarang lagi di makassar bukan ? " tanyaku.
" iyha " katanya
"oh iya kalau begitu silahkan di catat nomorku " sembari menyebutkan nomor handphoneku, namun bukan dia yang mencatatnya melainkan pemuda yang satunya.
" ya sudah kalau begitu kami pamit dulu" kata pemuda yang mencatat nomor handphoneku tadi.
                     merekapun beranjak pergi meninggalkan halaman rumahku, aku dan kakakku masuk ke dalam rumah.

***
               sore menjelang maghrib aku melakukan pekerjaan sehari-hariku yaitu membantu ibuku melakukan pekerjaan rumah, setelah semua kerjaanku beres aku menonton sembari bermain handphone, tibatiba handphoneku berdering menandakan adanya pesan singkat, aku membuka pesan itu namun nomor yang di gunakan tak kukenali 
" selamat sore all .... "
aku pun membalas pesan itu 
" siapa ? "
"aku yayat, kamu siapa ? " balasnya
"aku metha ini yayat siapa ya ?" 
" yayat  temannya lea yang nyatat nomor kamu kemarin " balasnya lagi 
" oh kamu " 
" iya salam kenal yah "
"iya" balasku mengakhiri perkacapan via message itu.
                komunikasipun terus berlanjut setiap harinya akupun semakin akrab dengan pria yang bernama yayat itu seiring dengan lancarnya komunikasi kamipun sering bertemu dan kumpul bersama aku tidak hanya akrab dengannya tetapi temannyapun menjadi temanku semenjak berkomunikasi kami pun memutuskan untuk berteman. sampai suatu hari aku memperkenalkannya dengan teman baikku tetapi sama denganku hanya via telefon. saat itu aku tengah asyik berbincang bincang dengan temanku yang bernama emha via telephone. di tengah perbincangan aku meminta tolong kepadanya untuk menyambungkannya ke yayat. telefon pun tersambung meskipun sempat berdebat dengan wanita gilaku teman baikku yang mau menyambungkan telephonennya hanya dengan pria.
               waktu terus berputar begitupun bumi yang mengelilingi matahari dan bulan, siang jadi malam malam jadi siang tak terasa setiap detiknya waktu terbuang dengan segala aktivitas dan rutinitas. 3 hari lagi wanita gilaku akan memasuki umur baru aku dan teman-temanku sepakat akan mengadakan party kecil-kecilan untuk emha, kamipun mempersiapkannya dengan matang dan saat harinya tiba tepat pukul 00.00 wita aku mengirimkannya pesan singkat 
 " Happy Birthday Sayang semoga panjang umur sehat selalu,
   Murah rezeky jangan mikirin cowok melulu yha Heheh " dia pun membalas 
" makasih ya sayang btw aku mau bilang sesuatu nih "
" apaan bebp penasaran nih " balasku 
“ tau tidak yayat tadi nyatakan cinta uh pass 12 malam gembiranya bukan main haha “ tawa keras yang melayang d seberang telephone membuat aku kaget.
“ wah serius kamu ? jawabannya apa ? pasti iyakan ? “ responku dengan gembira.
“ hmmmm apa yah…..” gumam dia membuatku penasaran
“apaaa ikh jawabannya pasti iya kan ayooo lah pastikan ? “ sautku meyakinkan
“hahah IYA “
“waahhhhh traktir besok yhaa haha ciee yang sudah lepas dari jomblowati” sautku begitu gembira
“haha males akhhh”
“ huftt kamu yha kalau udah bahas traktiran pasti bawaannya kaburr, btw bsok lanjut yha sudah ngantuk diriku ini bibeh bye bye ummach  “ balsaku sekaligus pamit tidur
                Aku menyimpan handphoneku dengan kondisi off lalu menutup mata yang sepertinya sudah lelah dengan kegiatan hari ini.
                                                ***
Pagi menanti mataharipun sudah mulai menampakkan cahayanya kulihat jam wekerku menunjukkan pukul 06.30 aku bergegas mandi dan bersiap-siap untuk ke sekolah karena hari ini adalah hari sabtu mata pelajaran pak hasri dan tepat pada jam pertama. selesai memakai seragam aku buru-bu pamit ke pada ayah dan ibuku dan tak sempat mencicipi sarapan khas buatan bunda tercinta. Karena trauma seminggu yang lalu telat hanya 3 menit aku tidak di perbolehkan masuk dan harus menjalani hukuman yaitu membersihkan wc. Dan aku tidak ingin hal yang serupa terulang untuk yang kedua kalinya karena malu itu bisa jadi kita sendiri yang buat dan jadi idola itu kita yang ciptakan bukan dia ataupun mereka. Di perjalanan hatiku terus was-was dan berharap semoga tidak terlambat lagi dan alhasil setibanya d sekolah tepat depan bangunan tua yang bercatkan warna perdamaian yang membuat hati jadi damai yaitu hijau dan ketika  kaki ku menginjakkan halaman sekolah bel pun berbunyi aku bergumam dalam hati sambil tersenyum “wahh ternyata bel sekolah menungguku hihi”. Aku segera menuju ke kelasku di depan kelas aku tiba-tiba disambut dengan keanehan teman-temanku yang tiba-tiba memeluk manja,akupun hanya bisa memandang mereka dengan penuh tanda tanya. Tapi diantara teman-temanku yang menyambutku aku tidak melihat sosok wanita ter-PD yang selalu heboh dan kagetan, aku mencari-carinya melirik kesemua sudut sekolahku namun batang hidungnya pun tak nampak. Aku dan teman-temanku masuk ke kelas. Tak berapa lama waktu berselang emhapun datang dengan wajah yang ceria. Mungkin karena persoalan semalam wajahnya bersinar mengalahkan mentari. Dia berjalan menuju tempat duduknya tepat di sampingku. Setelah dia menyimpan tasnya tiba-tiba anak-anak berhamburan masuk ke kelas mungkin pak hasri sudah menuju ke kelasku yah kelas yang terkenal akan kenakalan-kenalakan para muridnya namun kelas yang juga sangat mempunyai banyak kenangan bagi penghuninya serta guru-guru yang pernah mengajar di dalamnya, aksi konyol yang selalu di lakukan bersama bahakan sampai membuat seorang guru keluar dari kelas disertai air mata yang mengalir dipipinya karena hal konyol yang di lakukan teman-temanku menempelkan permen karet di kursi guru serta menyimpan penghapus di atas papan tulis yang tingginya tidak dapat di jangkau oleh sang guru. Lanjut ke situsi yang sedang berlangsung dalam cerita. Suasana hening seketika, saat guru yang bertubuh kekar dan terkenal akan kedisiplinannya itu memasuki kelasku. Ketua kelasku pun memberikan aba-aba.
“istaid”
“qiaman”
“Salaman”
Kamipun serentak memberikan salam. Oh iya sekolah ku merupakan satu-satunya sekolah agama yang sudah negeri di kota kelahiranku tercinta ini jadi basic kami adalah agamis nan modern. Pelajaran pun berlangsung dan yah seperti biasa tak ada yang berani bertingkah jika bapak guru yang satu ini masuk.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar