Kamis, 14 November 2019

CERITA TANPA AKHIR

 (Kepergian Tanpa Alasan Dan Penjelasan itu Memang Menyakitkan)




   


              Ditinggal saat pas sayang-sayangnya itu memang menyakitkan terlebih ketika ditinggal tanpa alasan dan penjelasan, ku akui kamu memang hebat dalam bermain hati tanpa pernah mengetahui dalamnya rasa sakit yang di rasakan oleh orang lain, caramu membuat wanita nyaman memang unik namun di balik keunikan itu ternyata menggoreskan luka yang tak terlihat dan nyatanya sangat membekas. ibarat Fajar dan Senja, Kamu adalah sang fajar yang tak pernah bisa dinikmati secara bersamaan dengan senja dalam satu waktu.  

**** 

CHAPTER 1

( PERTEMUAN )
      
19 Juni 2018 hari raya idul fitri baru saja usai beberapa hari yang lalu, dan waktu cuti hari raya masih tersisa beberapa hari lagi, aku memutuskan menghabiskan cuti liburan untuk bertravelling ria bersama kawan-kawan, tujuan pertama yang menjadi target refreshing adalah Tana Toraja, kabupaten yang kaya akan hasil alam dan tempat wisatanya, dataran tinggi yang menjadi target para wisatawan untuk berlibur. Untuk menuju kabupaten yang memiliki berbagai tempat wisata yang menyuguhkan keindahan bagi setiap penikmat alam itu harus melintasi satu kota, dengan menggunakan kendaraan seadanya ku lintasi kota Palopo menuju Toraja untuk sekedar melepas penat selepas KKN yang kujalani selama kurang lebih 1 bulan di pulau sebrang, berdua bersama sahabat KKN ku melewati beberapa gunung yang menjadi pembatas kota, sebelum berangkat terlebih dahulu kami mengisi amunisi untuk kendaraan di salah satu SPBU Palopo demi kenyamanan selama perjalanan. Kunikmati perjalanan yang menyuguhkan keindahan dan mengabadikannya dengan memotret dan merekam semua yang ku lalui, awan yang indah dengan segala bentuk, gunung yang berjejeran rapi, pohon pinus yang menjulang tinggi jalanan yang berliku semua terekam jelas dalam kamera yang berada dalam genggaman tanganku, melihat pohon pinus yang indah itu aku menginstruksikan Cica berhenti sejenak mengabadikan kenangan dengan berfoto, kami pun berhenti di salah satu spot yang biasa menjadi persinggahan orang-orang untuk istirahat atau hanya untuk sekedar mengabadikan momen. Seperti yang ku katakan di tempat itu tidak hanya kami yang ingin mengambil gambar, juga ada 2 orang lelaki yang memiliki tujuan yang sama dengan kami, ku lihat lelaki yang satu tengah memotret temannya sedang yang di potret masih asyik dengan pose santainya, aku menghiraukan mereka dan kembali memotret diri kami secara bergantian, tiba-tiba lelaki yang memotret temannya itu mendekat lalu menawarkan diri untuk membantu memotret kami
"sini biar aku bantu foto?" Saut lelaki berpostur kurus agak tinggi memiliki warna kulit sawo matang.
"serius boleh kak?" saut aku yang kegirangan berasa tak percaya, secara kami tak mengenal satu sama lain aku memanggilnya dengan sebutan kak melihat dari perawakannya sepertinya dia jauh lebih tua dariku yang masih menuju kepala dua ini.
"iya serius, udah sana ambil posenya" selara meminta kamera yang tengah ku genggam
Kemudian diapun memotret kami setelah itu kami berbincang-bincang sekaligus berkenalan
"makasih kak"
" iyya sama-sama, oh iya dari mana?" saut lelaki yang memotret
" dari Palopo kak?" balasku
"oh satu kampung ternyata! Tujuannya mau kemana?"
"oh kakak dari Palopo juga? Rencana kami mau ke toraja kak. Kalau kakak mau kemana?"
"iyya asli Palopo, mau ke makassar tapi ada urusan sebentar di Toraja. Jadi kita sejalur ini?"
" hehe iyya kak"
" eh iya Rifki " sautnya sambil mengulurkan tangan
"Methaa" balasku lalu ku perkenalkan temanku dan dia juga mengenalkan temannya di situlah akhirnya aku tahu namanya
"masih kuliah ?"
"iyya kak masih alhamdulillah sudah semester 7"
"oh sebentar lagi selesai yah, di Toraja mau ngapain?"
"insyaAllah kak doakan and jalan-jalan doang sekaligus refreshing hehe"
"oh pasti mau ke burake yah?"
"masih rencana sih kak mau ke burake dulu terus ke kete kesu"
"oh sama kami juga rencana nanti mau ke kete kesu "
"oh kakak juga mau ke kete kesu ?"
"iyya, eh ayoks jalan bareng aja kan satu tujuan" ajaknya sembari berjalan menuju motor yang terparkir tak jauh dari tempat kami berfoto
"ayoks kak" balasku sembari mengajak partner jalanku menuju motor kami.
Kami pun melanjutkan perjalanan dengan menikmati pemandangan yang disuguhkan, memasuki kawasan toraja kami melintasi pasar bolu yang menjadi pertanda bahwa kami telah memasuki kawasan yang memiliki segudang tempat wisata itu, kami pun berpisah dengan kak Rifki dan kawannya yang tiba-tiba namanya aku lupa, mungkin karena dia tak banyak bicara juga saat perkenalan tadi aku tidak terlalu mendengar namanya. sontak saja mulutku yang tanpa rem ini mengucap
"Cica kalau nanti kita kembali bertemu lagi dengan kakak itu berarti kita jodoh!"
Cica yang agak stengah waras ini merespon dengan cetus sambil terbahak
"haha saraf otak lu udah abnormal yak? Kebiasaan cewek gatel mah gini suka nge-dream ketinggian dek"
Akupun membalasnya dengan tawa sambil berpikir kok bisa yah tiba-tiba saja pikiran itu muncul dan sontak disampaikan oleh mulut tanpa remku ini. Cica adalah salah satu kawan KKN ku dengan postur yang agak gemuk, kulit sawo matang dan juga memiliki suara yang cempreng sama dengan ku, aku dan cica bertemu saat KKN kemarin dan di situlah awal pertemanan kami di mulai. Setelah melewati perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya kami memutuskan untuk berkunjung ke kete kesu, salah satu tempat wisata yang menyuguhkan keindahan alam dan beberapa furniture asli toraja serta di kete kesu ini juga terdapat salah satu gua yang terdapat ukiran alam dengan gambaran kerangka manusia, kete kesu juga dipercantik dengan susunan tongkonan yang merupakan rumah adat toraja yang berjejer rapi di kelilingi dengan pemandangan sawah yang hijau nan asri, di kete kesu juga terdapat beberapa stand souvenir yang menjual aksesoris khas toraja seperti sarung toraja, topi wisata, kopi toraja, gantungan kunci, pin dan sebagainya. Kete kesu bagiku bukanlah tempat baru karena ini adalah perjalanan kesekianku, sejak SMA kelas 2 aku sudah bolak balik toraja sebulan sekali bersama teman-teman SMA ku untuk refreshing, sehingga toraja bagiku bukan lagi hal baru. Meski demikian setiap perjalanan menuju kabupaten ini selalu meninggalkan kenangan tersendiri bagiku. Kami pun langsung menikmati suasana yang ada di kete kesu saat itu suasananya sedang ramai mengingat ini masih suasana liburan. Kami mengabadikan momen dengan saling memotret secara bergantian dan mengelilingi tempat wisata itu menyusuri gang yang di penuhi dengan stand souvenir dan furniture khas toraja. Saat menuju gua yang harus melewati beberapa anak tangga aku terkejut, kami kembali di pertemukan dengan kakak yang tadi bertemu di bawah pohon pinus. Akupun langung menegur sapa dengan mereka
"ehh kakak yang tadi" sautku sambil mendekatinya, rupanya dia baru saja hendak turun menuju parkiran melanjutkan perjalanan menuju kota daeng.
" ehh ketemu disini kitanya yah" saut kak Rifki
"dari atas GUA yah kak? Gercep oey" sautku antusias
"iyya, rencana ini mau lanjut perjalanan lagi hehe"
"ohh gitu yah kak, eh ayuks foto bareng yuk kak" ajakku
"ayuks, sini" kak Rifki menerima tawaranku.
Pertama kami hanya foto berdua lalu ku lihat kawannya yang saat itu hanya diam saja, ku panggillah kakak itu untuk bergabung kemudian kamipun mengambil foto bertiga aku yang kecil ini diapit oleh dua lelaki yang berpostur tinggi membuat foto itu terlihat unik.
Oh iya perkenalkan aku Metha Aulia Renanda, gadis yang 21 tahun lalu lahir di kota idaman, berpostur kecil dengan tinggi 144cm aku tidak gemuk pun tak kurus, aku gadis yang berhijab namun pribadiku masih jauh dari kata sholehah, aku juga berkulit sawo matang, kawan-kawanku biasa memanggilku dengan sebutan Metha atau tatha’. Setelah sesi foto usai tiba-tiba kak Rifki merogoh kantong celananya kemudian membuka ponselnya lalu meminta nomor whatsapp ku, akupun dengan senang hati berbagi, ia ingin meminta foto yang telah di potret tadi. Setelah itu merekapun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan mereka, aku dan cica juga kembali melanjutkan petualangan kami. Tak ada insthink apapun mengenai pertemuan itu karna menurutku pertemuan itu hanyalah sebuah pertemuan biasa yang menjadi sebuah silaturahmi sesama makhluk Tuhan namun ternyata kelak pertemuan itu memberikan ku pelajaran bahwa tak setiap pertemuan yang indah akan memiliki akhir yang indah pula, disinilah kebahagiaan yang berakhir luka yang sebelumnya tak pernah ku bayangkan akan sepedih ini menjadi awal perjalanan dari kisah ini. 


*****



CHAPTER 2
(PERTEMUAN KE-II)




Pertemuan di bawah pohon pinus itu bagiku hanyalah pertemuan biasa yang hanya sebuah kebetulan, dan aku percaya Tuhan mempertemukan seseorang pasti memiliki hikmah tersendiri. Waktu terus melaju, sehari telah berlalu malam menujukkan pukul tujuh, aku memasuki kamarku yang menjadi istana ternyaman bagiku, aku baru saja tiba di rumah setelah seharian asyik menghabiskan waktu bersama kawan-kawan akupun segera menarik baju mandi favoritku dan segera membersihkan diri, beberapa menit berlalu setelah kesegaran tubuhku mulai kembali aku merebahkan diri ke tempat tidur lalu mengambil ponsel yang ada di sampingku membuka galeri memilih foto yang ingin ku posting, sudah menjadi kebiasaan ku selalu membagikan momen yang telah ku lalui di akun sosmedku hanya untuk sekedar mengabadikan momen, ku pilih salah satu foto bertiga yang ku ambil pada saat di kete kesu kemarin yang kubumbui dengan caption ala kadarnya, tiba-tiba foto itu di komen oleh teman SMP ku dia adalah Arka teman sekelas ku dulu kami baru saja di pertemukan kembali di sosial media setelah beberapa tahun tak komunikasi ternyata dia melanjutkan studynya di Jawa tepatnya Surabaya, aku bersyukur dengan adanya sosial media ini bisa kembali menyambung silaturahmi dengan kawan-kawan yang lama tak bersua. dunia benar-benar sudah berkembang dengan teknologi yang semakin canggih di era millenial ini.
"eh ciee yang foto bareng kakak ipar," komennya
"maksudnya?" balasku tak mengerti
"yang disamping kirimu itu kakakku?"
"oh ya serius? Nggak percaya akunya"
"iyya serius itu kakak aku, eh fotonya sama kakak ipar aja dulu, sama mertua kapan-kapan aja yah kalau sudah waktunya, wkwkwkwk" balasnya penuh gurauan.
Sontak saja aku terkejut dengan gurauannya, dunia memang benar-benar sempit, gumamku dalam hati, Chatpun berlanjut dengan pembahasan yang saling mengejek satu sama lain dan bertanya kabar, aku dan Arka kembali akrab beberapa bulan yang lalu, setelah lulus SMA aku dan dia lost kontak bahkan hampir semua teman SMP ku tak pernah lagi ku dengar kabarnya selain kedua sahabatku yaitu Rashya dan Indi yang memang tak pernah lepas dari komunikasi ku, setelah menyelesaikan studi ku di bangku SMP aku melanjutkan studi ku di salah satu pesantren yang ada di kota kelahiranku ini, dari sinilah aku mulai kehilangan komuniksi bersama kawan-kawan yang lain. Puas berchat ria dengan Arka di sosial media kembali ku letakkan ponsel dan menatap langit-langit kamar sembari menikmati alunan musik relaksasi yang terputar di headphone yang melekat di kedua telingaku. Aku penikmat musik relaksasi, alunan yang mendamaikan mampu meringankan otakku yang sudah full dengan pikiran-pikiran tak penting. musik relaksasi juga sudah menjadi pengantar tidur bagiku. getaran dan dering notifikasi meleburkan lamunanku kulihat layar handphone menyala tanda notifikasi pesan masuk, langsung saja kuraih ponsel yang baru beberapa menit lalu terlepas dari genggamanku, membuka notifikasi yang masuk dan tertera nomor baru yang menyapa dengan kalimat pertanyaan.
"masih di Toraja?"
Segera ku cek profilnya namun kosong, aku tipe orang yang tidak suka basa-basi dengan seseorang terlebih jika aku tak mengenal orang tersebut. Namun firasatku mengatakan itu kak Rifki yang kemarin ku temui sekaligus berfoto bersama sewaktu di Toraja. Entah mengapa pikiranku tertuju padanya atau karena pertanyan yang di ajukan, entahlah langsung saja ku balas pesan itu dengan singkat.
"siapa?"
"Rifki yang kemarin ketemu di Toraja."
"Oh kak Rifki, alhamdulillah sudah di Palopo kak kemarin setelah keliling beberapa tempat wisata kami langsung pulang" balasku
Ternyata insthing ku benar dia adalah Rifki, senior yang kutemui 48 jam yang lalu di bawah pohon pinus yang berbaik hati telah memotretku tanpa pamrih, Chat pun di mulai dan berawal dari sini kamipun saling berkomunikasi. Membahas perkenalan hingga hal-hal yang tak penting, saling bertukar canda tawa saling mengejek satu sama lain kehadiran kak Rifki mengisi hari-hariku yang sebelumnya kosong, setelah putus dengan kekasihku beberapa bulan yang lalu karena berselisih paham aku memilih untuk sendiri tak ingin mengisi hati lagi hanya ingin menikmati bahagia tanpa harus mengorbankan hati orang lain aku menikmati kesendirianku dengan menyibukkan diri fokus untuk tugas akhirku aku mempunyai target yang harus ku selesaikan, karena tak ingin kembali konsentrasiku terbagi mungkin ini alasanku untuk tak lagi menjalin hubungan baru dengan orang lain lagi. Tak perlu mengorbankan hati untuk membahagiakan orang lain hanya ingin berdamai dengan keadaan mengosongkan pikiran dan mengisinya dengan hal-hal positif. Karena aku punya passion yang harus ku capai, cukup satu hati yang ku korban kan aku tak ingin ada hati lain yang tersakiti lagi. Aku sudah mulai nyaman dengan keadaan ku yang seperti ini, kebebasan, keinginan, dan kebahagiaan kini aku sendiri yang tentukan tak ada lagi hati yang perlu ku jaga tak ada lagi alasanku untuk sakit hati. Aku mahasiswa akhir di salah satu kampus ternama di kota ku, saat ini aku sedang proses menyusun skripsi yang menjadi syarat akhir sebelum meraih gelar sarjana. Komunikasiku dengan kak Rifki semakin hari semakin dekat hingga berselang beberapa hari kemudian nomor baru kembali menyapaku dengan kalimat pertanyaan yang sama dengan kak Rifki.
"masih di toraja?"
Balasku Sama saat kak Rifki menanyakan hal itu aku melihat foto profile nomor tersebut ku lihat foto itu sepertinya teman kak Rifki yang waktu hari berfoto denganku. Kupastikan dengan kembali melihat gambar yang kemarin aku post d sosial media dan benar saja itu dia.
"Alhamdulillah sudah di palopo kak dari kemarin" balasku
"oh iya Alhamdulillah btw kenal aku nggak?"
"iyya kenal kak, temannya kak Rifki kan yang kemarin ketemu di Toraja?"
"heheh iyya, kalau kenal gitu nama aku siapa?
Aku yang sejak awal perkenalan sudah lupa namanya siapa hanya cengengesan sambil kembali mengingat-ingat namanya, pikiranku menemukan jalan buntu, lantas aku teringat akan chat Arka yang bilang kalau itu kakaknya langsung saja ku whatsapp Arka hanya untuk menanyakan nama kakaknya itu, ok aku berhasil mengetahui nama lelaki ini melalui adiknya,namun nama yang di berikan Arka adalah Nama panggilannya sedang waktu perkenalan dia menyebutkan nama lengkapnya, meski demikian aku tetap menang dong. Langsung saja ku balas pesannya.
" kak Wawan kan?" balasku dengan percaya diri
"Eh, perasaan nama yang kuperkenalkan waktu itu bukan nama panggilanku"
Akupun hanya membalasdengan emot tertawa, chatpun berlangsung sama dengan kak Rifki kami hanyamembahas rana perkenalan, kesibukan canda tawa, saling mengejek hingga jalanyang mempertemukan aku kembali dengan mereka adalah tugas akhirku. Beberapahari komunikasiku dengan kak Wawan berjalan dengan lancar kini aku memiliki 2 teman ngobrol dan bertukar pikiran dia adalah kak Rifki dan kak Wawan. Setelah berbincang-bincang di sosial media mengenai tugas akhirku akupun mengatur jadwal meet up dengannya, seminggu lagi dia akan kembali ke Palopo dalam rangka pemilihan Presiden yang jatuh pada tanggal 17 Juli aku sepakat untuk bertemu dengan dia untuk membahas tugas akhirku yang kini masih sementara prosespengerjaan, ia berjanji untuk membantuku, dengan senang hati ku terima tawaranmereka. 3 hari sebelum bertemu nomor baru menelfon ku, aku menunggu beberapadetik sebelum mengangkat nomor itu, aku bukan tipe cewek yang langsung menjawabtelfon dengan nomor baru, setelah beberapa detik ku angkat telfon itu, ntahmengapa aku sangat mengenal suara itu, yah suara yang baru saja terbiasa dengan telingaku, suara kak Wawan , tiba-tiba aku tersentak dengan pertanyaannya yang menanyakan keberadaan ibuku, aku pun heran dengan pernyataan itu, ntah bercanda atau apapun itu tiba-tiba saja ia membahas mengenai syarat-syarat pernikahan kepadaku, aku yang biasa saja menanggapi semua itu menjawab dengan candaan konyol meskipun sempat kaget dan bingung, kami pun hanyut dengan obrolan-obrolan pernikahan yang memakan waktu selama 5 jam yang di selingi dengan candaan.Berawal dari telfon ini, aku dan dia serta kak Rifki semakin akrab bahkan tiap malam kami video dan voice call di whatsapp hingga larut malam bahkan tak jarang hingga fajar menjemput pun kami masih telfonan, pembahasan yang tak berfaedah sampai debat hingga taruhan pun menjadi bumbu cerita pertemanan kami.Pertemuan kedua ku tlah tiba kami sepakat bertemu di salah satu telkom yang ada di kota idaman yang penuh dengan kenangan. Kali ini kami hanya bertiga cica yang sebelumnya menjadi saksi perkenalanku dengan kedua senior ini tak sempat ikut karena dia pun kembali ke kampung halamannya. Mereka berdua telah menungguku, pertemuan kedua pun terjadi dan disini kami hanya membahas seputar tugas akhirku serta menyelip pembahasan-pembahasan konyol lainnya. Setelah pertemuan kedua ini ternyata hubunganku makin akrab dengan mereka, setiap hari kami tidak luput dari komunikasi video call ataupun voice call, bahkan weekend ku di isi dengan canda tawa mereka berdua, hidupku benar-benar makin berwarna semenjak kehadiran mereka, kekosonganku kini musnah aku kembali memiliki teman ngobrolaku kembali menemukan diriku, bersama mereka aku benar-benar menjadi diriku,ketika aku mengalami kesulitan mereka akan menjadi tempat ku meminta solusi,waktu terus melaju, menit berganti jam, minggu berganti bulan kini pertemanan kami semakin kuat, kak Rifki Selalu menghubungi ku lalu menyambungkannya dengan kak Wawan atau sebaliknya, begitulah yang terus terjadi di antara kami, berbagi cerita sampai tertidur dengan telfon yang masih tersambung satu sama lain. 

CHAPTER 3
(Voice and Video Call)

Ala bisa karena biasa Berawal dari komunikasi kenyamanan itu terbangun hingga perasaan bisa tumbuh dengan sendirinya, bersamaan dengan itu pula akhirnya kelak rasa itu menjadi boomerang untuk diri sendiri!!!
________
setelah pertemuan kedua, rupanya komunikasi kami semakin hari semakin lancar bak air sungai yang mengalir, voice dan video call setiap hari terjadi, setelah sholat isya Ponselku selalu berdering yang menjadi pertanda panggilan masuk dari kedua cowok kosong yang mengisi malamnya untuk menggangguku atau hanya sekedar mengajakku bertengkar dengan obrolan gila mereka, but aku tak keberatan dengan itu karena akupun menyukai panggilan itu, selain bisa berbagi canda tawa atau berdebat kita juga saling berbagi ilmu ntah itu soal agama, sosial atau pengetahuan lainnya. Kali ini malam mingguku ku habiskan dengan PW-an (posisi wenak) di atas ayunan hammock yang ku gantung di teras rumah sambil menikmati hembusan angin yang datang dari arah laut, memandang langit yang di hiasi bintang-bintang, bulan yang hanya nampak stengah membentuk sabit yang indah, rumahku tak jauh dari pelabuhan hanya berkisar beberapa meter dari gerbang pelabuhan, sehingga hembusan angin laut sangat terasa, dari kecil aku sudah terbiasa dengan air dan pantai keduanya menurut ku adalah moodbooster, desiran air laut yang menuju bibir pantai begitu riuh di telinga, hembusan angin yang membawanya pun begitu menyegarkan, membuat ku tenang, damai, dan pastinya bahagia. mungkin karena alasan ini pula aku sangat menyukai pantai terlebih saat senja mulai menampakkan diri meski hanya sekejap tapi keindahan yang disuguhkan sungguh menghipnotis para penikmatnya terkhusus diriku sendiri. Aku bangga menjadi anak pesisir, selain suasana yang menyejukkan aku juga bisa bermain air sepuasnya menikmati kesegaran alami tanpa polusi. Handphone ku berdering membuyarkan focusku pada langit yang gelap dengan pikiran flashback akan masa kecilku. Ku raih ponselku dan mengangkat telpon dari kedua cowok kosong yang kurang kerjaan ini, malam mingguku kali ini di isi oleh mereka berdua yang mengajakku bertengkar atau bisa jadi mengajakku taruhan untuk hal-hal konyol.
"Oioioi" sautku 

"Ki', udah di angkat tuh!" Kak wawan memulai
"Ehh, si cewek kosong yang Malmingnya di rumah doang dasar jomblo" kak rifki mulai menaruh gendera perang 
"Ehhh bodoamat jomblo gini juga yang penting mah bahagia, emang situ berdua udah kosong, jomblo ngenes lagi HAHAHA" bantahku sambil tertawa
"wah ngajak perang nih anak ki, kayaknya perlu di kader ulang deh biar bisa hormat dikit ke seniornya" saut kak wawan mulai kepancing
"Dasar cowok kosong bleee" ejekku
"Oh, sepertinya bsok ada yang udah jadi almarhum ni wan" saut kak Rifki dengan dialek asli Palopo
Aku dan kak wawan tertawa mendengarnya,
"Belum tau dia ki, bentar lagi ada surat kabar yang terbit seorang junior mendapatkan azab tertimbun gas LPJ 3 Kg setelah mengejek seniornya" kak wawan menimpali.

kita semua tertawa, hanya dengan obrolan seperti ini membuatku benar-benar happy se-sederhana dan sereceh inilah selera humorku tapi berkesan, lelucon mereka receh tapi ntah kenapa membuatku jadi lebih bahagia aja.
"eh ada kabar baru apa nih di palopo?" tanya kak Rifki
"kabar barunya kemarin rumah sakit umum terbakar 3 mayat kabur menyelamatkan diri, suster dan dokter alhamdulillah semuanya selamat!" jawabku dengan expresi dan intonasi serius
"HAHAHA kamvret ini bocah kayaknya minta ditenggelamin yah?" timpal kak Wawan.
"tunggu gua di palopo dek bentar lagi gua cubit ususlu" saut kak rifki dengan nada mengancam yang di selingi dengan tawa.
"eh taruhan nyok, tembus pagi yang kalah dapat hukuman gimana?" ajakku
"taruhannya apa ini?" tanya kak Wawan
"taruhannya yang duluan tidur berarti kalah, batas waktu sampai jam 6 pagi telfon baru bisa mati, gimana?" jelasku
"woey gua kerja njir!" komplain kak wawan
"wah ok gua setuju itu, yang kalah harus ngapain ini" saut kak rifki
"wah gua nggak ikut deh, besok gua ngantor" kak wawan nyerah
"huuuuuu, dasar cendol baru juga gitu udah nyerah, laki-laki palsu" provokatorku
"aku besok kerja nenek, cekloknya jam 8, taukan makassar macetnya sebelas-duabelas sama jakarta, belum lagi urus diri, masak sendiri, nyuci sendiri semua serba sendiri" protesnya lagi
"makanya nikah, biar ada yang ngurus" timpal kak Rifki sambil tertawa
"hahahaha dasar cowok kosong, laki-laki palsu, makanya nikah pak di segerakan biar ada yang ngurus" sautku sambil terbahak
"kalian mah kompak yah berdua suka tertawa di atas penderitaan orang lain" sautnya merasa terdzolimi.
aku dan kak Rifki hanya tertawa mendengar ocehan tak jelasnya yang seolah-olah terdzolimi oleh kami berdua.
"eh jadi gimana ini taruhannya setuju nggak?" tanya kak Rifki.
"aku sih yes, kak Wawan tuh gimana, sanggup plus berani nggak?" sautku dengan nada menantang
"ok sanggup aku ikut taruhannya" jawabnya dengan tegas dan tak mau kalah
"ok jadi taruhannya yang tidur duluan sebelum jam 6 bakalan kena hukuman yak panggilan masih terus berlanjut sampai pukul 6 pagi tak ada alasan apapun, jika telfonnya mati yah telfon balik pokoknya tanpa alasan apapun and then hukumannya di buat perorangan asal jangan yang aneh-aneh awas aja kalau aneh-aneh aku laporin ke komnas HAM loh aku masih 17 tahun ingat yah kakak-kakakku sekalian haha" ancamku sambil cengengesan sambil menjelaskan aturan main.
"dasar anak kecil, iyak paham ok pembahasan di mulai pokoknya awas saja kalau kalian berdua yang tidur 100% kalian akan menyesal" ancam kak wawan
" hukuman dari aku yang kalah silahkan cuci baby pinky (motor kesayanganku yang menjadi partner jalanku yang paling setia) sampai kinclong ini untuk kak Rifki, untuk kak wawan apa yah?? aku pikir-pikir dulu yak" saut ku sambil berpikir
"aku kalau yang kalah methaa harus cuci motor plus bikinin kue atau masakin masakan yang paling enak, untuk wawan apa yah? gimana kalau lu jadi asisten gua seharian wan? hahaha"
"anjir gua jadi pembantu lu kali, kalau gua yang menang hukuman buat metha sama cuciin motor juga + hukuman selanjutnya nanti bakal gua kasih tau kalau udah menang but kalau gua kalah methaa harus suapin gua begitupun kalau gua menang tetap di suapin, gimana? untuk rifki ok gua bakal beliin lu bahan kue dan metha yang olah bahan itu gimana?" tantangnya
"wah nggak adil dong kak menang banyak itu mah" protesku
"udah jangan protes terima aja karena gua yang bakalan menang" tegasnya dengan penuh percaya diri.
"simppan PD anda baik-baik karena yang menang it pasti aku"
"udah jangan ribut karena yang menang itu pasti aku kalian siapkan diri saja buat bersihin motor gua" timpal kak rifki di tengah perdebatan aku dan kak Wawan.
"udah permainan di mulai dari sekarang titik nggak pakai koma lagi." sautku
kami bertigapun tertawa sambil menikmati games konyol yang sama sekali tidak berfaedah ini. semuanya bisu, yang terdengar hanya suara gemuruh kipas angin dari balik telfon kak Wawan sementara di balik telfon kak Rifki alunan musik ST 12 yang menggema begitu keras. dan aku sendiri hanya menikmati bacaan quotes yang ada di galeri hpku diselingi menatap langit yang di hiasi kilauan bintang-bintang. kami sengaja tak ingin berbicara biar hasilnya yang jawab siapa yang akan mendapatkan hukuman diantara kami bertiga. ku yakin sih bukan diriku. aku sudah terbiasa dengan dunia kalelawar yang menggunakan siang hari untuk beristirahat dan malam harinya di gunakan untuk berburu makanan. bedanya aku tak berburu makanan melainkan mengerjakan tugas akhir atau hanya untuk menghabiskan drama korea yang slalu jadi tontonan favoritku. waktu terus berjalan aroma-aroma kekalahan mulai tercium dari kedua sainganku ini, kak Rifki mulai tak bersuara begitu pun dengan kak wawan aku tak ingin menegur mereka biar mereka yang menegurku, jam menujukkan pukul 02.30 masih ada tiga setengah jam lagi sebelum games taruhan konyol ini berakhir. aku mulai memanggil para sainganku ini berharap mereka berdua sudah tertidur pulas namun rupanya mereka masih berada di dunia nyata. 15 menit kemudian ku panggil lagi mereka hanya untuk memastikan kesadaran mereka, dan ternyata suara dengkuran dari salah satu sainganku ini membuatku terbahak ku pastikan pemilik suara dengkuran itu dan ternyata dia adalah kak Wawan aku dan kak Rifki saling tertawa, merasa kemengan ada di tangan kami berdua, tidak sampai di situ aku dan kak Rifki masih melanjutkan games konyol ini untuk mencari pemenang yang sesungguhnya. kami sibuk dengan dunia masing-masing hanya sesekali saling menegur untuk memastikan kesadaran masing-masing. tak terasa adzan subuh sudah berkumandang pertanda sebentar lagi sang fajar akan menampakkan diri. aku dan kak Rifki sepakat untuk melaksanakan sholat subuh dulu namun telfon harus tetap berlanjut segera aku menuju toilet mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim. 15 menit berlalu aku sudah selesai, kebiasaan ku setelah malaksanakan sholat tak lupa menyisipkan waktu 5-8 menit untuk membaca al-qur'an sebanyak 10 ayat. aku kembali mengambil handphoneku dan menyapa kak Rifki ternyata ia lebih dulu selesai akupun berbincang-bincang sebentar sebelum games berakhir. telfonnya juga masih tersambung dengan kak Wawan yang masih asyik dengan mimpi indahnya, suara dengkuran nya menegaskan feelingku, aku dari tadi trus memanggilnya berharap dia bisa bangun dan melaksanakan sholat subuh namun rupanya tidurnya begitu nyenyak mungkin karena kelelahan, ku akui hari ini dia kerja keras melayani customernya. Dia adalah salah satu pegawai perusahaan swasta di Makassar yang bergerak di bidang teknologi, dia memang tipe cowok pekerja keras aku mengetahui ini melihat dari aktivitasnya yang selalu ia ceritakan baik via telfon maupun chat. kak Rifkipun juga seperti itu tipe cowok pekerja keras bedanya kak Rifki masih sama sepertiku berjuang untuk beberapa tambahan huruf di belakang nama, dia tiga tahun di atasku sama dengan kak wawan namun kak wawan menyelesaikan studinya lebih dulu. aku tak ingin membandingkan keduanya karena setiap orang memiliki passion yang berbeda begitu juga dengan perspektifnya, yang jelas mereka sama-sama berusaha untuk masa depan yang lebih baik, mereka juga memiliki jurusan dan skill yang berbeda aku tak ingin menjadi tuhan di antara mereka yang menjudge dan membandingkan satu sama lain karena aku percaya setiap orang memiliki garis takdir dan jalan sendiri yang sudah dikemas dengan baik oleh sang pencipta. ku lanjutkan percakapan ku dengan kak Rifki.
"halo kak,"
"ehh aku pikir kamu sudah langsung tidur."
"heheh nggak lah, kan perjanjiannya jam 6, ini masih ada 45 menit lagi."
"iyya, jadi siapa nih pemenangnya?"tanya kak Rifki.
"kita berdua dong kak haha, yang jelas sebentar lagi kita akan menghukum seseorang" sautku
"ya sudah kamu silahkan tidur, gamesnya biar di akhiri sampai disini saja, besok kamu juga harus kerja kan. aku juga ada jadwal kuliah besok jam 9." pintanya
"ok kak jadi gamesnya sudah berakhir yah dan pemenangnya kita berdua kan?" pastiku.
"ia besok di lanjut lagi, udah sana tidur dek udah masuk pagi juga ini"
"ok kak, aku pamit duluan yak selamat ber istirahat, wassalamu alaikum" pamitku
"iya,waalaikum salam" jawabnya
telfonpun terputus.waktu menunjukkan pukul 5.45 aku menuju kamarku, masih ada beberapa jam yang bisa ku gunakan untuk beristirahat sebelum kembali beraktivitas seperti biasa. ku cahrger handphoneku yang sudah mulai lowbat, aku pun merebahkan badan mungilku di atas kasur yang berselimut sprei ungu hingga kesadaranku mulai hilang.
******
waktu menunjukkan pukul 8.00 segera ku tarik baju mandiku dan berlari menuju kamar mandi. aku bersiap-siap untuk kembali beraktivitas seperti biasa. hp ku masih tercharge dan sampai sekarang belum sempat ku lihat, aku menuju dapur membuat sereal untuk sarapan pagiku. setelah memberikan kewajiban pada lambung aku bersiap-siap menuju kantor tempatku mengais rezeki. alhamdulillah salah satu kesyukuranku takdir yang tuhan berikan padaku begitu baik aku meski masih kuliah sudah bisa bekerja di salah satu instansi pemerintah yang ada di kotaku meski hanya sebagai honorer aku sudah sangat bersyukur, setidaknya aku bisa meringankan beban orang tua ku dalam membiayaiku, aku bukan tipe anak seperti pada umumnya yang hanya bisa menikmati dan menghabiskan hasil kerja keras orangtua, dari awal semester 2 aku sudah menikmati rasanya bekerja sambil kuliah, pertama kali aku bekerja di salah satu cafe milik pembina sanggar seniku berkat pengalaman ini aku banyak belajar tentang hidup, dan mulai diri sinipun aku sudah bisa meringankan beban orang tuaku membayar sppku, dari kecil ayah & ibuku selalu mengajarkanku untuk mandiri, jika menginginkan sesuatu aku harus berusaha sendiri ntah itu menyisipkan uang jajanku, atau aku harus berusaha membuat sendiri apa yang aku inginkan, dan dari sinipula lah jiwa kreatifku lahir. beberapa menit telah berlalu aku mengambil tas mencabut hp dan charger, ku tarik kunci motorku dan menuju kantor. tiba di kantor aku baru mengecek hp ku dan ternyata 3 panggilan tak terjawab dari kak wawan dari 2 jam yang lalu, ku whatsapp dirinya.
"maaf kak aku baru pegang handphone, tadi hpnya aku charger btw knpa?"
"nggak dek kirain belum bangun" balasnya
"oh hehehe alhamdulillah udah kak btw tadi aku udah bangunin loh shalat subuh tapi tidurnya nyenyak bet dah sepertinya kecapean yah kak?"
"eh, iya tadi dibanguninnya juga sama ibu, shalat subuhnya telat hehe"
Aku dan kak Wawan sebelumnya sudah punya janji untuk saling mengingatkan dan membangunkan sholat subuh dan sholat wajib lainnya, perjanjian ini lahir karena alarm tak mempan menembus gendang telinga kami berdua terkadang juga karena kami biasa keasyikan kerja hingga tak mendengar adzan, chatpun berlanjut sembari melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Chapter IV   VOICE AND VIDEO CALL PART II
Dalam candaan biasanya tersirat sebuah pengakuan, meski berselimut tawa bisa saja itu adalah rasa terpendam yang belum sempat tersampaikan secara langsung!!!
****

Bulan Juli & Juni berlalu kini agustus menjemput,, voice dan video call masih terus berlanjut setiap harinya, kami benar-benar saling mengisi satu sama lain. Kak Rifki yang selalu menghubungiku untuk mengisi kekosongannya, kami selalu saja bertukar cerita dia benar-benar pendengar yang baik, aku dan dia bahkan selalu berbagi cerita entah itu percintaan, aktifitas, pekerjaan dan tak jarang kami saling bercerita tentang masa kecil begitu juga dengan Kak Wawan. memang benar komunikasi bisa menciptakan rasa nyaman. Intensitas komunikasi diantara kami bertiga rupanya menyisakkan rasa nyaman dan membuat pertemanan ini benar-benar berwarna. Seperti biasa kami voice dan video call. Kali ini ntah apalagi yang menjadi topik pembahasan kami bertiga. Dering telfon ku membuatku tersenyum melihat nama yang tertera di layar handphoneku. Yah itu telfon dari kak Rifki si cowok kosong yang selalu membuat ku berpikir keras untuk menebak semua teka-teki yang selalu di berikan.

 “hallo fans” sapa kak Rifki 
“halo Pembantu” balasku dengan tegas sambil cengengesan
“kamvret hahaha, lagi dimana mblo?” tanyanya sambil tertawa 
“alhamdulillah masih di bumi sebentar lagi otw mars” 
“bangke, gua serius nanya lu dimana?” 
“mau dimana lagi kak masih di rumah aja” 
“oh lu sibuk nggak?” 
“nggak juga sih ini lagi nyantai aja, kenapa emangnya?
“gua mau minta tolong nih kalau bisa sih”
“mintol apaan tuh kak? Kalau aku bisa yah pasti bantuin kok”
“serius nih? Tapi akunya nggak enak?”
“emang mau mintol apa kak?”
“hmmmm, bener nih yah nggak apa?”
“iyya kak”
“jadi gini gua mau mintol kan lu nggak ngapa-ngapain disitu gimana kalau lu bantuin gua kesini nyuci piring kotor gua sekalian kostan gua lagi banyak debu nih”
“anjirrrr kak rifkiiiiiiiiiiii, kirain apaan udah serius plus penasaran juga” teriakku 
“Hahahahhahhha kenna kan lu 2-0 dong” 
“siapa bilang oey kakak belum menang loh yah,”
“udah dek kalau kalah yah kalah aja nggak usah ngelak, hahahah” 
“ohhh awas yah kak tungguin pembalasan aku” gerutuku kesal
percakapan yang tak berfaedah selalu menciptakan canda tawa diantara aku dan kak rifki setiap malam terjadi kadang aku dan kak Rifki nelfon atau video call pun hingga subuh menjemput. Begitu juga dengan kak wawan. Setelah puas mengejekku dan sedikit membahas skripsiku diapun pamit untuk mengerjakan sesuatu kali ini dia punya kerjaan proyek yang harus diselesaikan yang membuat voice callku berakhir cepat, biasanya voice call ku berakhir di pukul 2 atau 3 subuh kali ini masih pukul 11.30 stengah jam lagi pergantian hari. Ku letakkan ponselku dilantai belum beberapa menit ku lepas dari genggaman dering telpon kembali mengagetkanku yang baru saja menutup mata menikmati hembusan angin di atas hammock berwarna tosca yang tergantung diantara pagar rumah. Ku lihat nama yang tertera Rupanya kak Wawan cowok kosong kedua yang selalu menelfonku di jam tidur yah dia selalu menelfonku di atas jam 10 kalau tidak video call bertiga pasti dia menelfonku, sepertinya saling vocie and video call adalah pekerjaan wajib bagi kami bertiga. Sama seperti kak rifki kak wawan juga selalu menjadi tempatku berbagi cerita aku senang dengan mereka berdua karena aku tidak hanya mempunyai teman ngobrol, tetapi aku juga mempunyai para tentor yang lucu dari mereka aku juga banyak belajar dengan cerita-cerita yang selalu mereka bagi. Pikiranku terbuka saat ngobrol dengan mereka mungkin karena chemistri kami bertiga dan mungkin juga karena mereka tahu menempatkan pembelajaran dalam suatu candaan. Yah mereka tak pernah serius setiap ngobrol denganku, kalau tidak mengejekku yah pastinya membuat challange atau sebagainya.
“halo assalamualaikum” salam kak Wawan membuka percakapan
“Waalaikum Salam Warahmatullah” jawabku
“eh Nenek belum tidur” 
“baru juga jam berapa kak, masih pagi oey”
“heleh, ini udah jam tidur anak kecil oey”
“lah terus kakak knapa belum tidur? Kan udah jam tidurnya anak kecil”
“mvrettt yang aku maksud itu kamu nenek”
“heheh buntu juga nih senior”
“eh, skripsinya gimana?” 
“alhamduliilah, tinggal nungguin ujian kompren kak”
“wah. Selangkah lagi dong yak, oh iya minggu depan aku balik ada acara nggak nih?”
“ serius mau balik ?” girangku
“selow bae dek, baru juga rencana udah kegirangan aja, gimana langsungnya yak” ejeknya 
“huuuuu, dasar cowok kosong, tukang PHP” balasku
“hahahah, udah kangen yah? Wajar kok cowok kayak aku mah emang slalu ngangenin” 
“simpan PD anda baik-baik kakak”
“hahahah ok berhubung karena aku mau pulang aku mau tagih hukuman kemarin”
“ehhhh dianya yang kalah malah dia yang minta hukuman. Sepertinya bentar lagi ada senior yang bakal di kubur hidup-hidup”
“ halah, kalau udah kalah yah kalah aja dek, btw Rifki Kemana, aku telfon nggak di angkat chat juga nggak di read”
“lagi selingkuh, katanya pacarnya lagi sibuk dengan kerjaannya sampai lupa kalau dia ternyata punya pacar, dan pacarnya sekarang lagi telfonan sama aku”
“anjir anak ini lihat gua Gay yak” 
“bodoamat bodoamat bodoamat”
“dasar anak kecil”

telphon tiba-tiba beralih ke video call, dia dengan posisi yang masih berbaring di tempat tidur dengan senyuman manisnya, ia memiliki lesung pipi, kumis tipis, dan rambut yang agak lebat yang masih acak-acakan, dia humoris, lucu aku senang dengannya. video call masih terus berlanjut.

" eh challenge yuks"
"challange apaan kak? Bukan yang kiki-kikian itu kan sambil kejar mobil?"
"hahah anak millenial kali pake yang gituan" 
"dari pada situ pake tantan and tiktok kentara bangetkan sepinya hahhaha"
"sotoy kamu dek, awas aja yah kalau sampai kamu jatuh cinta sama aku"
"biar kita lihat aku atau kakak yang bakalan jatuh cinta duluan" tantangku
"pasti kamu lah, kamukan baperan cewek kosong!"
"baperan kek gini juga tapi kakak suka kan huuu" rayuku
"PD-an banget nih bocah"
"bodo yang penting mah bahagia" ngegasku sambil menjulurkan lidah 
"heeeee, bocah ini ngajak brantem melulu yah, bocil lu dek bocil"
"hahhaha yahhh mulai ngegas dianya, cowok kesepian mah suka cari hiburan sendiri" ejekku 
"bosan makan nasi yak dek?"
"banget kak, nasi mengenyangkan sama kayak harapan sayangnya nasi bisa di kunyah kalau harapan langsung ketelen"
"bucin lu dek haha"
"biarin"
"kasian yang jomblonya akut malamnya selalu sepi jawabannya selalu pasrah haha"
"nyadar dong pak situ juga jomblo bleeee"
"aku jomblo, tapi sebentar lagi pasti bakal punya pasangan"
"ehhh, kadal bakal punya pasangan dong"
"iyya kadal betinanya kamu"
"heeee angsa mah nggak bisa jadi kadal bung angsa itu anggun nggak kayak kadal yang hidup di dua alam haha"
"yakin nggak mau sama aku?"
"ehhh pede banget sih pak, 100000% yakin" 
"awas yah kalau sampai jatuh cinta aku jadiin istri ke 24"
"nggak apa jadi istri ke-24 asal yang terakhir trus nanti biar aku layanin dengan baik sarapannya pake sianida"
"anjirrrr tega banget lu dek"
percakapan benar-benar menghibur meski hanya saling ejek namun nyatanya bisa buat bahagia.benar-benar sereceh ini rasa humorku, ku habiskan malamku dengan video call saling mengejek kali ini sebelum ketiduran kami bermain sambung lagu dan pastinya lagu sheila on 7 menjadi lagu pilihan, aku sangat menyukai band yang di pimpin oleh om Duta ini, lagu favorit sekaligus penghibur. Malam panjang untuk kisah yang pendek kami ketiduran selepas bermain sambung lagu hingga subuh menjemput rupanya telphone sudah terputus dan aku masih mengambang di atas ayunan hammock menikmati hembusan angin subuh dan suara adzan yang menggema di langit menuntun manusia yang masih terlelap dibawah alam sadar dengan berbagai mimpi menuju keriuhan dunia nyata.
****

Hari minggu ini di isi dengan tiduran di temani dengan lagu  sheila on  7 yang menggema di sudut kamar, beres-beres rumah dan mencuci pakaian kotor sudah selesai, posisi nyantai masih menjadi pilihan,dering  telphonek kakRifki kembali mengagetkanku lagi-lagi pagi ku di isi dengan voice dan video call yang sepertinya sudah menjadi kebutuhan. "Selamat pagi pembantu"

 "ehhh jomblo masih pagi udah ganggu aja" sambutku 
"he'e sama calon suami jangan kayak gitu dek, dosa loh" 

"subhanallah habis kesambet setan apa kak pagi-pagi masih mimpi"

"kesambet setan cinta kamu"
"rayuanmu receh senior"
"ehhh laperkuyyy"
"kalau laper yah makan dong kak"
"soup ayam kayaknya enak nih mumpung di luar lagi hujan jadi butuh yang anget-anget"
" minum tolak angin kak biar anget haha"
"serius kali dek jangan becanda mulu"
"iyya aku serius kayak cinta aku ke kamu"
"hahaha salah orang lu kalau mau ngegombal"
"alah awas aja kalau kakak sampai jatuh cinta yah"
"lu ntar yang bakal jatuh cinta sama gua bukan gua yang jatuh cinta sama lu"
"modus keberapa ini?"
"ke-sekian dan terima kasih wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"hahahaha waalaikum salam warahmatullah, semoga di terima disisi-Nya kak"
"anjayy, lu kira gua mati nyet"
"hahahaaahahahah"
"ehh tutorial soup ayam dong gua laper nih mau eksperimen di dapur"
"tumben mau masak biasanya juga ngorder pak"
"udah jangan banyak protes dek ntar lu kaget kalau gua masakin"
"paling juga hoax belaka, catat bahannya biar aku sebutin"
"langsung tutorialnya aja kamu juga pasti kosongkan?"
"helehhhh dasar pemalas, iyya tunggu, jadi aku harus buat video nih?" gerutuku 
"iyya kamu kedapur gih terus videoin cara masaknya yah, ingat jangan muka kamu yang video tapi bahan dan prosesnya ok"
"iya iya, udah matiin aku mau ke dapur cek bahan sekalian langsung masak"
"uhhh adek aku calon istri yang baik emang"
"dasar modusss"
"hahaha biarin emang aku suka kok"
"haha udah matiin assalamu alaikum"
"waalaikum salam"
Telpon berakhir aku langsung menuruti perintah kak Rifki menuju dapur mengecek bahan yang akan ku gunakan untuk bereksperimen, ntah mengapa aku begitu saja nurut dengan perintahnya. Aku melakukan eksperimen membuat soup ayam yang paling enak menurut versiku tidak lupa juga aku merekam semua bahan dan prosesnya, aku benar-benar menjadi anak yang penurut kan? Hehe. Setelah puas menguasai dapur selama satu jam dengan membuat berbagai macam makanan mulai dari soup ayam yang ku bumbui dengan rempah khas dari keluargaku aku juga membuat perkedel jagung yang menjadi pasangan untuk soup ayam dan berbagai makanan pendamping lainnya sebagai pelengkap. aku segera mengirimkan rekaman hasil eksperimen ku ke kak rifki lalu kembali menuju istana kecilku merebahkan diri mengistirahatkan tubuh mungil ini yang lelah dengan pekerjaan para ibu rumah tangga yang membuatku sadar ternyata pekerjaan wanita lebih berat ketimbang pekerjaan para lelaki. Wanita bisa mengerjakan pekerjaan lelaki tapi lelaki tidak akan pernah bisa mengerjakan pekerjaan wanita dan sepertinya itu sudah menjadi kodrat bagi manusia bayangkan saja wanita dari subuh sudah beraktifitas berbelanja keperluan dapur, membuat sarapan untuk keluarga, mengurus anak dan suami,membersihkan rumah, mengantar-jemput anak ke sekolah, belum lagi pekerjaan yang lain, sepertinya hampir 24 jam waktunya bekerja, dan itu adalah pekerjaan harus bin wajib yang di terima oleh seseorang yang terlahir sebagai wanita tak ada gaji yang di terima melainkan sebuah hadiah pahala yang langsung dari Allah. Untuk para cowok-cowok di luar sana melihat pekerjaan wanita yang seperti ini apa masih berani menyakitinya belum lagi kalian melihat bagaimana perjuangan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu kan?, mengandung membawa berat 2-3 kg yang ada dalam perutnya selama 9 bulan, mengalami kesulitan tidur demi mencari zona nyaman untuk dede bayi. Dan masih banyak lagi perjuangan yang tak bisa di ceritakan. Kembali ke topik awal aku memilih untuk istirahat dan tak lagi beraktifitas setelah menyelesaikan tugas dari kak rifki sampai beberapa jam kedepan ku putuskan hanya berbaring di kamar sembari mendengar alunan lagu sheila on 7 yang menggema di setiap sudut kamar. 

*****
CHAPTER V 
KOMUNIKASI ITU JEBAKAN

Nyaman itu jebakan, namun terkadang perasaan nyaman tak bisa di hindari karena perkara hati siapa yang tahu, mungkin kamu bisa saja untuk menghindar dan menolak tapi untuk hati yang tulus kamu tidak akan pernah bisa melawannya... jika berani bermain pisau maka harus berani pula untuk terluka begitu juga dengan hati berani bermain dengannya maka siapkan pula hati yang kuat!!!
***
Agustus kali ini penuh dengan kerisihan hati dimana aku mulai tak mengerti dengan diri dan perasaanku, aku terjebak dalam zona nyaman diantara keduanya perasaan yang sebelumnya berhasil ku tepis namun kali ini benar-benar tak dapat ku hindari aku tak bisa membohongi perasaanku lagi rasa itu mulai muncul dan tumbuh aku mulai merasakan itu setelah komunikasi intens yang kujalani beberapa bulan ini, uring-uringan ini menyiksaku, aku selalu menghindar bahkan menepis rasa itu namun kali ini benar-benar tak bisa ku elakkkan lagi. Aku menangis di sudut kamarku, ku hubungi sahabatku Ira yang selalu menjadi penampung keluh kesahku.
"Ra', lagi dimana? Sibuk nggak?" chatku 
"di rumah, lu uring-uringan lagi?" balasnya 
Ira selalu mengerti perasaanku persahabatan yang terjalin selama kurang lebih 9 tahun membuat aku dan Ira sudah lebih dari saudara kami saling mengerti dan memahami satu sama lain. Aku dan Ira bersahabat sejak SMA kami ada berlima yang dua melanjutkan Studinya di Kota daeng aku Ira dan Rara tetap stay di Palopo. 

"gua kesel sama diri gua sendiri Ra' gua nggak bisa kontrol diri gua sendiri, gua bingung dengan perasaan gua, di satu sisi iyya gua mungkin udah buka hati gua di satu sisi lagi perasaan gua ini harusnya nggak ada, nggak mungkin gua jalin hubungan sama dia itu mustahil, gua pasti bukan tipe perempuan yang dia mau dan dia nggak mungkin punya rasa yang sama sama gua kita hanya sekedar kakak adean, senior junioran doang nggak lebih" ketikku dengan air mata yang tanpa ku sadari.
"ehh tau nggak yang buat dirilu tersiksa itu yah diri lu sendiri, gua udah ngomong sama lu, udah berulang kali gua peringatin lu untuk hati-hati komunikasi itu bisa jadi jebakan buat lu sendiri dan sekarang udah terjawab kan? Alhamdulillah tha' gua bersyukur lu udah bisa buka hati lu tapi kembali lagi ke elunya jangan terlalu parnoan and negatif thingking lu nggak tau perasaan dia ke lu itu gimana kan? Yaudah tunggu waktu aja biar waktu yang jawab perasaan lu"
"iyya ra' gua paham tapi perasaan ini nyiksa gua, gua selalu uring-uringan nggak jelas, kalau dia nggak ngabarin gua, gua kadang khawatir, kadang juga mikir yang macem-macem, guanya terlalu berlebihan ra'."
"Nah itu lu tau yaudah intropeksi diri kurangin tuh nething and perasaan lu yang nggak karuan itu. Udah lu jangan nangis lagi, besok kita jalan happy-happyan. Mending lu sana ambil wudhu trus sholat udah mau masuk isya ini"
"ok gua sholat dulu bye"
Setelah beberapa bulan komunikasi dengan kedua senior ini aku merasa uring-uringan dengan diriku sendiri, kerjaan kadang terganggu, fokus kadang hilang ntah apa yang terjadi dengan diriku, hingga kadang aku menangis sendiri tanpa sebab. Namun untungnya sahabat-sahabatku selalu menemaniku dan menssupportku, ternyata cinta dalam diam itu rumit dan memendam rasa itu memang sulit, sakit tanpa bisa dijelaskan. Ira selalu menenangkan ku dengan nasehat dewasanya dan tips-tips lainnya, memang benar komunikasi itu bisa menciptakan rasa nyaman yang akan jadi jebakan buat diri sendiri. Perempuan memang handal dalam menyembunyikan rasa tanpa pernah berpikir bahwa rasa itulah yang sebenarnya menyiksanya, ujian perempuan memang terletak pada hati yang tak bisa di tebak untuk siapa dan kapan ia tumbuh. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri berusaha untuk menghilangkan segala fikiran aneh yang ada. Rupanya komunikasi yang intens bisa menimbulkan rasa nyaman, ini benar-benar di luar dugaan, sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, setelah putus dari kekasihku yang sebelumnya aku sudah berjanji dengan diriku sendiri tak ingin lagi kembali memulai hubungan yang baru dengan siapapun namun rupanya rasa nyaman lebih besar dari janjiku. ntah mengapa perasaan ini mulai merasa nyaman dengan salah satu diantara mereka namun aku berusaha untuk menepis rasa itu aku tak ingin kembali menyimpan hati pada orang lain yang belum pantas untuk menjadi pelabuhanku, aku telah berjanji dengan diriku sendiri tak ingin kembali menjalin hubungan dengan siapapun, namun perasaan manusia siapa yang tahu, sekuat apapun kita mencoba untuk menghindar jika menyangkut soal hati maka itu adalah kesulitan terberat, perkara hati memang bukanlah sebuah hal yang mudah aku kembali mensuggesti diriku sendiri, kita hanyalah teman tak lebih, dan rasa ini hanyalah sebuah rasa nyaman biasa seperti nyaman ke teman pada umumnya.
Keesokannya aku memutuskan untuk mulai menghindar dari mereka dengan tujuan hanya ingin memastikan apakah benar rasa ini hanyalah sebuah rasa nyaman biasa atau malah sebaliknya, seharian aku menghilang ku letakkan ponsel dalam box mini dengan keadaan non aktif namun ternyata rencanaku tak berjalan mulus, sebagian besar manusia memang tak bisa lepas dari gadget dan aku menjadi salah satu diantaranya, pukul 9 malam ku aktifkan kembali handponeku dan benar saja aku di hantui oleh chat mereka seolah-olah aku ini benar hilang bahkan pesan yang masuk mencapai 30 pesan yang isinya hanya spam dari dia belum lagi panggilan tak terjawab, aku benar-benar mulai merasa berarti untuk seseorang, kembali merasakan ternyata masih ada seseorang yang mencariku ntah itu karena keperluan atau yang lainnya, kebingungan ini memenuhi otak dan hatiku, apa kah ini pertanda aku harus membuka hati lagi, aku mengakui caranya membuatku nyaman benar-benar berbeda dengan yang lain, di saat beberapa orang tengah berusaha berjuang membuatku nyaman dan mendapatkan hatiku dia dengan mudahnya mampu meluluhkan hati yang dingin ini, karena prinsip dan hati yang beku dan susah untuk di cairkan ini membuatku juga susah untuk nyaman dengan orang lain, Dan nyatanya hanya dia yang berhasil meluluhkan hatiku dengan caranya sendiri, dia humoris, lucu, aku mendapatkan chemistri darinya, namun kembali ke prinsip awal aku tidak ingin menjalin suatu hubungan dan aku memang mulai nyaman tapi belum tentu rasaku ini adalah sayang atau cinta. Menurutku rasa ini masih sekedar kagum tidak lebih, dari persepsiku kagum sayang dan cinta itu berbeda, jika kamu mulai nyaman dengan seseorang tanpa ada rasa ingin memiliki dan membahagiakan itu hanya sekedar kagum, sedangkan rasa sayang itu ketika kamu menginginkan seseorang menjadi milikmu dan berusaha untuk membahagiakannya, dan cinta itu ketika kamu mulai merasa bahwa kamu berhak membuatnya bahagia ntah itu bahagianya bersama dengan mu atau tidak dan kamu tak ingin mendapatkan balasan rasa darinya yang jelas yang menjadi prioritasmu adalah kebahagiaannya. Kembali mensuggesti diri untuk tetap biasa-biasa saja dan tak ingin menilai hanya dari beberapa cara yang ia tampakkan tak ingin kege-eran ku positifkan pikiranku mungkin ia sedang butuh teman chat atau teman ngobrol sehingga mengspam dan menelfonku atau dia sedang butuh bantuan atau yang lainnya, ku usahakan untuk tetap menggunakan logika tanpa adanya campur tangan dari hati, terkadang memang kata hati tak bisa berbohong namun hati bisa mengecoh pemiliknya untuk terjebak dalam cinta yang salah. Kujalani hari-hariku dengan berbagai macam pertanyaan yang sudah menguasai pikiranku dengan rasa yang ku alami saat ini serta kebimbangan akan perkara gembok hati yang haruskah kubuka untuk dia atau tetap kekeuh dengan janji yang sudah kubuat dengan diriku sendiri, rasa nyaman ini benar-benar jebakan sekaligus boomerang untuk diriku sendiri, berbagai cara ku coba untuk menghindari komunikasi yang menjadi jembatan awal mula dari rasa ini, ku sibukkan diriku dengan berbagai kegiatan salah satunya memilih untuk mengambil les gym dan kali ini aku menggunakan kalimat "dibalik kesibukan yang padat ada hal yang ingin dilupakan" kalimat yang sangat pas dengan kondisiku saat ini selain untuk menyibukkan diri aku juga berniat menurunkan berat badan yang kini mencapai angka 40 Kg, olahraga menurutku pilihan yang pas karena dengan berolahraga mampu merefresh otak dan tubuh dari keletihan bekerja, berpikir dan sebagainya, namun nyatanya aku salah bukan tubuh ku yang lelah melainkan hatiku yang memendam perasaan yang tak seharusnya kubiarkan tumbuh dan berkembang, anehnya saat hati manusia mengalami gangguan - terlebih saat patah hati - tubuhnya pun ikut patah. ku galaukan ia yang menjadi tersangka dalam rasaku ini, ia yang berhasil membuatku uring-uringan dengan ketidak jelasan tingkahnya yang membuatku baper dengan setiap celotehnya meski hanya sebuah celotehan garing, namun aku pun tak bisa melimpahkan kesalahan sepenuhnya pada dia yang tak tau apa-apa ia tak salah akunya saja yang kebaperan, akunya saja yang mudah nyaman dengan seseorang yang baru saja ku kenal bicaraku dengan diri sendiri. Ia tak tahu aapa-apa soal rasa dan pikiranmu itu. kamu yang bertanggung jawab atas dirimu sendiri dan semua yang terjadi padamu bukan orang lain karena kamu adalah pemeran utama dalam hidupmu yang lain hanyalah penonton dan tuhan yang lebih menentukan jalan hidupmu. kamu hanya bisa berencana tuhan yang menentukan. Setelah beberapa hari pertanyaan akan rasa yang terpendam menguasai hari-hariku dan berhasil membuatku uring-uringan kini aku menemukan jawabannya. Yah benar Aku nyaman dengannya rasa nyaman ini bukan sekedaar rasa nyaman pada teman biasa, atau nyaman seorang adik pada sang kakak melainkan nyaman terhadap sosok pria yang menjadi lawan jenis, kendati demikian namun tahu diri itu perlu ku negatifkan pikiranku agar bisa mengundurkan diri dari rasa ini, aku bukan tipenya dia terlalu wah untuk aku yang biasa, ku ulang dan selalu ku ulang kalimat itu dalam hati agar bisa mengontrol bahkan menghilangkan rasa ini namun harapan ku tak sesuai dengan kenyataan semakin ku negatifkan pikiranku justru semakin aku merindukannya apa benar ini yang di katakan suka?, apa kah harus secepat ini rasa nyamanku hadir? Apa iyya hanya karena komunikasi yang intens dan semua pembahasan mengenai masa depan membuatku segila ini? Atau Apa karena aku yang terlalu menggunakan hati? Akhhhh entahlah apa yang sebenarnya tuhan rencanakan untukku akupun masih bingung dan penasaran. Di balik semua pertanyaan itu Ku jalani komunikasiku seperti biasa meski harus terus bersembunyi dibalik kepura-puraan, wanita memang handal dalam menipu, ia begitu handal dalam menyembunyikan rasa, tertawa dalam duka bahagia dalam tangis, terkadang tawa riangnya adalah luka yang menganga, bahagianya adalah deraian air mata, namun dibalik semua itu terdapat ketulusan dan kasih sayang besar dari lubuk hatinya. meski demikian aku tetap bahagaia, aku memiliki notifikasi favorite, aku memiliki panggilan yang slalu ku tunggu di seperdua malam, aku memiliki seseorang yang ku tunggu dan menjadi sumber tawaku meski hanya aku sendiri yang merasakannya aku tetap bahagia. tak penting apakah dia memiliki rasa yang sama atau sebaliknya biarkan rasa ini menjadi rahasia antara aku dan tuhan, biarkan aku menikungnya pada sepertiga malamku jika memang dia adalah takdirku dia pasti akan datang kepadaku dengan sendirinya karena aku percaya apa yang ditakdirkan untukku takkan pernah bisa menjadi milik orang lain dan apa yang ditakdirkan untuk orang lain takkan pernah bisa menjadi milikku bahkan sekuat apapun aku meminta dan menjaganya dia pasti akan melewatiku., aku hanya bisa mendoakannya ketika memilikinya bukan lagi menjadi obsesi karena jika itu obsesi maka ketika aku tak bisa memilikinya aku sendiri yang akan merasakan sakitnya, untuk itu ku putuskan tetap menyimpan rasa ini, lagi pula kodrat wanita itu menunggu bukan memulai. Semakin hari semakin banyak pula hal yang ku ketahui tentang dirinya aku mempelajari semua itu dari caranya berkomunikasi denganku dan aku bahagia ketika dia mempercayaiku untuk menjadi tempat curhatnya menjadikanku tempat berkeluh kesah saat kerjaan mulai melelahkan baginya saat problem kantor yang tak sesuai dengan inginnya aku bahagia saat dia menjadikanku rumah tempat pulangnya saat dia mulai lelah dan pusing dengan semuanya. Tak hanya persoalan kerjaan dia bahkan berbagi kisah mengenai konflik keluarganya, dan dari sini aku juga percaya bahwa dia mempercayaiku dan pastinya dia nyaman denganku entah itu perasaan nyamannya ia anggap sebagai nyaman biasa layaknya kakak pada adik atau layaknya sahabat, aku tak peduli yang jelas dia nyaman denganku dan bagiku itu sudah lebih dari cukup, prinsip ku aku hanya ingin menjadi tempat yang menenangkan bagi setiap orang yang mengenalku aku hanya ingin bermanfaat untuk mereka aku hanya ingin melihat orang-orang disekelilingku bahagia mengenalku meski tak dapat dipungkiri setiap orang pasti memiliki pembenci namun biarkan saja toh yang membenci tidak jauh lebih baik dari yang di benci. Karena yang membenci adalah mereka yang ingin seperti mu namun tak bisa. Mungkin ia lupa bahwa setiap orang sudah memiliki jalan masing-masing dan sudah memiliki takdir yang harus di jalani tanpa merusak atau memusingi kehidupan yang lain. Kali ini aku terjebak dalam zona nyaman dan awal mulanya berasal dari sebuah komunikasi. Komunikasi itu Memang Jebakan!!!
*****
CHAPTER VI
SEBUAH BAYANGAN KEPASTIAN

Sekeras apapun kamu menyembunyikan Rasa, perihal Nyaman, Tulus, Sayang dan Takut Kehilangan itu akan terkuak dengan sendirinya, kamu tidak akan pernah bisa menolak dan menghindar karena perihal Rasa itu manusiawi, Allah Maha membolak balikkan hati, mungkin bibirmu mampu Berbohong tapi tidak dengan suara hati, semua orang pun pasti Memiliki Rasa ntah itu kagum, suka, sayang hingga cinta. hanya saja ada yang mengutarakan dan adapula yang hanya bisa memendam dan bertahan dalam diam!!! 
-------
Hari raya Qurban telah usai, seperti biasa aku melaksanakan sholat Id bersama ibu dan saudara perempuan semata wayangku, sama seperti keluarga pada umumnya merayakan hari idul adha bersama keluarga bersalam-salaman dengan para kerabat dan yang lainnya, ponselku di penuhi dengan pesan ucapan hari raya dari teman, sahabat, keluarga, hingga para teman-teman online. Namun hanya satu pesan yang kutunggu dari seseorang, yah dia adalah kak Wawan pesan dari cowok yang sudah berhasil mengembalikan kembali rasa nyamanku pada sosok laki-laki yang sebelumnya tlah hilang, aku mengakui seperti yang ku katakan sebelumnya rasa nyaman pada sosok laki-laki sangat sulit ku rasakan lagi selepas perpisahan dengan mantan pacarku yang sebelumnya bahkan untuk dekat pun dengan beberapa laki-laki aku menghindar ntah mungkin karena aku telah jenuh atau mungkin karena aku terlanjur nyaman dengan kesendirian dan sudah terbiasa menghindar dari teman-teman cowokku, sebelumnya aku lebih banyak berkawan dengan cowok menurutku berkawan dengan mereka itu lebih asyik tanpa drama aku bahkan bisa berbagi cerita tanpa pernah berpikir cerita ku kelak akan tersebar dari mulut kemulut, berteman dengan cowok itu lebih menyenangkan pembahasan pun seputar kegiatan sport seperti pertandingan bola, berbagi pengalaman percintaan dan sebagainya, sebagian orang berpikir bahwa berkawan dengan cowok adalah perempuan nakal bahkan image-image lainnya tak bisa di hindari namun mereka lupa dan pastinya tidak akan pernah tahu bagaiamana rasanya dijaga bak intan permata oleh para lelaki di tengah keramaian dan bagaiamana rasanya di istimewakan. Semenjak SMP aku lebih bergaul dengan para cowok-cowok yang sering nongkrong depan gang rumahku, aku sudah terbiasa dengan pergaulan dimana yang menjadi kawanku para preman-preman kecil yang selalu mangkal depan jalan raya, prinsipku berteman dengan siapapun tak peduli mau dia preman, ataupun bandar narkoba sekalipun yang jelas aku tidak ikut di dalamnya semua cukup ku temani aku mengambil positifnya dan mengabaikan negatifnya, ketika mereka sudah ingin minum-minuman keras atau merokok aku menghindar dan lebih memilih untuk pulang, berteman dengan mereka itu seru no jaim-jaim bahkan mereka menjagaku saat mereka ingin melakukan hal-hal buruk seperti yang ku jelaskan di atas mereka pasti mengusirku bahkan mengantar ku pulang, mereka yah mereka dengan semua sikap dan sifat buruknya aku yah aku yang polos mereka semua baik tanpa pernah mengajak atau menjerumuskan aku untuk ikut di dalamnya bahkan kalimat yang tak pernah aku lupakan dari mereka "kami ini anak nakal, kami ini penjahat tapi cukup kami saja kamu jangan, kamu sudah baik dengan sikap mu yang seperti itu jangan di rusak, pertemanan itu netral kita tidak boleh merusak sesuatu yang sudah bagus, kamu boleh berteman dengan kami tapi kamu tidak boleh melakukan kejahatan/kenakalan seperti kami" akupun percaya dengan mereka karena sampai saat ini mereka masih sama dengan sikap dan sifatnya mereka melindungiku bahkan sangat menghormatiku, mereka nakal hanya dengan orang-orang tertentu katanya. "Back to topik". Aku mengirim ucapan terlebih dahulu ke kak Wawan, beberapa jam baru di balas mungkin dianya sibuk aku paham itu dan aku tidak pantas untuk menuntut kabar darinya aku bukan siapa-siapa aku hanya bisa stel lagu maher zain ft maudy ayunda InsyaAllah tahu diri wkwkw. Aku kembali menyibukkan diri dengan duniaku yang masih tak tentu arah, dengan sejuta ketidak pastian hidup. Kembali ke dunia nyata mungkin aku kesepian dalam kesendirian, karena yang paling menyedihkan bukanlah kesendirian melainkan kesepian. Hari ini tak banyak yang menjadi cerita. seperti biasa hanya komunikasi yang terus mengalir, lelah seharian mengelilingi rumah kerabat ku habiskan malam ku dengan istirahat dan pastinya di temani dengan kak wawan dengan voice and video call, kali ini kami hanya berdua, kak rifki sudah kembali ke palopo dan masih sibuk dengan acara keluarganya, kami berdua hanya berbagi cerita seperti biasa dan kegiatan harian. Keesokan harinya sore tepat setelah sholat Ashar dering telfon ku berbunyi itu dari kak Rifki, rupanya ia sudah ada di depan rumah bersama kak Bagas kalau tidak salah teman masa sekolahnya, aku juga baru mengenalnya, sebelumnya aku dan kak Rifki sudah janjian untuk bertemu di rumah sekedar untuk silaturahmi bertemu dengan adik dan spupuku dan juga berbagi cerita pastinya, aku merekamnya lalu ku kirim rekaman itu pada kak Wawan, langsung saja ponsel ku berdering video callnya memanggil, ku terima dan mulai mengejeknya, kak Rifki yang jago memanas-manasin orang pun mulai beraksi, aku dan kak Bagas hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabat ini yang selalu bisa membuat suasana hangat dan kocak. Sontak saja kak Rifki teriak sambil tertawa dengan puding yang masih ada di mulutnya "ehh aku duluan ke rumah mertuamu, kamu kapan?" aku yang mendengar langsung jlepppp kaget dan deg-degan, kak Wawan pun membalas "sabar, aku nanti langsung bawa orang tua dan keluarga haha" candaan yang mengundang tawa semua orang namun aku tertawa di balik kebaperan candaan itu, astaga apa-apaan ini –bicaraku dalam hati- aku dan para senior yang ada di depanku masih hanyut dalam obrolan ngaco' sambil mengejek kak wawan yang masih setia di balik telfon mendengarkan obrolan kami.
Malam pukul 08.15 sholat Isya baru saja usai. Aku masih sibuk di dapur membantu ibu menyiapkan santap malam, dan pastinya saling berbagi cerita tentang masa kecil dan juga tentang kisah percintaan ibu yang bertemu dengan ayah hingga nikah, ibu ku adalah sahabatku, teman cerita dan juga teman jalanku, bak adik kakak seperti itulah aku dan ibu, pertengkaran yang selalu mewarnai rumah cekcok hanya karena masalah kaos kaki yang hilang sebelah atau hanya persoalan makanan favoritku yang di bagi dengan adikku wkwk.
***
September pun hadir, bulan kesembilan di tahun 2018 yang menjadi bulan istimewa yang berhasil membuatku bahagia dengan dikirimkan orang-orang tersayang. Bulan dengan sejuta kenangan manis, bulan memupuk rindu, bulan pertemuan dan awal dari sebuah komitmen.
2 minggu setelah idul adha aku dan para senior rese' masih terus berkomunikasi seperti biasa. Weekend kali ini gantian kak Rifki sudah kembali ke Makassar dan saatnya kak Wawan untuk balik selain untuk tugas kantor ia juga ingin refreshing mengajak kawan kantornya untuk mengunjungi Palopo. Dering telfonku kembali berbunyi dan sudah pasti itu dari kak Wawan.
"halo Assalamu alaikum"
"Waalaikum salam kak"
"lagi dimana?"
"di rumah aja kak kenapa?"
"nggak kenapa-napa oh iya aku lagi di jalan menuju palopo"
"he??? Seriusan jalan ke palopo?"
"iyya serius ini udah di jalan tapi mungkin tibanya sore soalnya mau singgah dulu di Toraja masih ada urusan"
"ohhh sama siapa? "
"sama teman-teman kantor, sekalian mau ajak mereka jalan di Palopo"
"wahhhh seru tuh Palopo kan punya banyak tempat wisata ajak ke semua tempat gih kak"
"iyya pasti insyaAllah nanti di ajak, sekalian ikut yah"
"aku ikut?"
"nggak, ya iyalah emang nggak kangen gitu sama aku"
"waduh sepertinya bukan aku yang kangen tapi kakak haha"
"kalau iyya kenapa?"
"hahah aku emang ngangenin boss"
" haha iyya aku kangen, jadi ketemu dong!"
"hhahaah iyya kak insyaAllah ketemu nanti kabarin aja yah"
"ok deh sipp, ya udah aku lanjut dulu yah"
"ok kak wassalamualaikum"
"waalaikum salam"
Telfon terputus. Dan aku segera prepare menuju kampus, hari ini aku disibukkan dengan berkas-berkas untuk praktek mengajar yang mengharuskan untuk bolak balik kampus, pagi jam 9 masih sejuk untuk suasana pegunungan dan pinggiran laut mahasiswa lalu lalang di koridor fakultas mengurus segala keperluan belajar para staf juga masih sibuk dengan segala berkas-berkas, aku memilih menunggu di ujung koridor dengan kursi yang masih kosong. Sambil menunggu teman-teman ku isi waktu luang dengan chat-chatan ria bersama kak Wawan dan kak Rifki, aku tidak sabar menunggu kedatangan kak Wawan yang sebentar sore katanya sudah tiba.
***
Hari ini jadwal ngegym ku pindahkan selepas sholat Isya, jadwal yang padat sore harinya ku isi dengan mengajar privat di rumah salah satu teman pembina sanggar seniku kemudian lanjut ke rumah nenek untuk mengajar adik spupuku, habis Isya menuju gym sambil menunggu ajakan dari kak Wawan. Sore tadi ia sempat mengajakku jalan namun karena kendaraan ku di pakai Uzi ke kampus membatalkan pertemuan kami Uzi adalah adik perempuanku satu-satunya. Jarak rumah dan tempat ngegym lumayan agak jauh sekitar 3-4 kilo aku berangkat bersama kakak sepupuku kak yun yang juga ngegym di tempat yang sama, baru 20 menit tiba di tempat gym chat kak Wawan sudah memenuhi roomchat ponselku, ia memberitahu kalau ia sudah ada di pancasila salah satu destinasi tempat wisata yang lagi booming di kotaku, kurang lebihnya sih gambarannya seperti alun-alun kota, para pedagang menghiasi pinggir jalan dengan aneka dagangan dan minuman, arena bermain khusus anak-anak dan juga taman-taman yang indah yang di hiasi dengan gemerlap lampu tumbelr dan lampu jalan. Dulunya pancasila hanyalah sebuah lapangan kecil khusus untuk sepak bola namun pemerintah mengelolahnya dengan sangat baik hingga menjadikannya pusat wisata yang banyak di minati oleh kaum milenial dan yang lainnya. Aku bertemu dengan kak Wawan i'm so excited ini pertemuan ketigaku secara langsung, deg-degan bercampur bahagia. pertemuan yang diluar dugaan, kami mengelilingi lapangan pancasila sambil cerita-cerita aku juga berkenalan dengan kedua temannya, rupanya yang satunya anak rantauan berasal dari Jakarta, kami hanyut dalam obrolan sambil melirik orang-orang yang juga lalu lalang kemudian kedua teman kak wawan menghilang, meninggalkan kami berdua rupanya otak licik mereka beraksi aku dan kak Wawan jadi korban mereka, di telpon dan d wa rupanya mereka menuju WC masjid sambil jalan-jalan katanya dan membiarkan kami jalan berdua. Kami pun melangkahkan kaki hingga tiba di salah satu tower yang ada di sudut lapangan aku berhenti dan meluruskan kaki, begitu juga dengan kak Wawan, larut dalam cerita hingga tertawa lepas membawa kami pada rasa nyaman yang selama ini tertahan dalam rasaku. Hingga waktu menunjukkan pukul 10 lewat aku pun pamit untuk pulang duluan mereka rupanya juga sudah ingin pulang. Aku di jemput oleh salah satu kawan ku kak Wawan mengantar ku menuju parkiran dimana arfan menungguku, arfan  adalah kawan ku yang ku kenal dari teman ku saat camping bareng di salah satu gunung yang ada di Toraja kami juga baru akrab beberapa bulan yang lalu. Saat menuju parkiran kak Wawan bertanya siapa yang menjemput aku menjawabnya sesuai kenyataan namun yang kulihat dari wajahnya ada sedikit rasa cemas dan tidak nyaman entah apa artinya aku pun tak tahu hingga aku pamit menyebrang jalan ku lihat pandangannya yang seakan-akan tak ingin lepas dari ku dan Arfan hingga dia menghilang dari pandanganku. Tiba di rumah aku kembali chat dengan kak Wawan menyampaikan rasa terima kasihku untuk ajakan jalan-jalannya dan juga chat berlanjut pertanyaan mengenai cerita yang di bahas tadi
" tadi dejavu apa dek?" tanyanya
"ohh itu tadi dejavu aja kak pernah jalan sebelumnya trus marker depan tower yang posisi kita tadi itu loh"
"ohh gitu yah, btw aku mau nanya sesuatu"
"apaan kak?"
"mau lanjut ke hubungan yang serius nggak"
Jlepppppp kaget bahagia bingung semua tercampur jadi satu, aku tak menyangka pertanyaan seperti ini tiba-tiba di ajukan padaku secepat ini aku pikir ini hanya lelucon namun nyatanya ini serius di luar dugaan dan perkiraanku sebelumnya.
"maksudnya kak?"
"kita jalanin ini sama-sama menuju serius gitu"
"aku nggak bisa bilang iya juga nggak bisa bilang nggak gimana kalau kita jalanin aja dulu, toh kita juga nggak tau kan kedepannya bakal gimana"
"aku mau menuju serius mytt nggak mau main-main lagi"
"sama aku pun juga mau serius kak udah capek main-mainnya maunya tuh serius aja sampai tiba saatnya akad"
"sama aku juga, jadi resmi dong yah"
"hehe iyya kak"
"ya udah sana tidur gih sayang"
For the first time setelah sekian bulan nggak ada cowok yang manggil sayang yang bener-bener special dan malam ini tiba-tiba di panggil sayang sama seseorang yang bener-bener special itu rasanya kayak gimana yah pokoknya bahagia seperti dapat jackpot bertriliunan gitu.
"belum ngantuk sayang, tidur duluan aja aku masih insom nanti juga tidur sendiri kok hehe"
" ya udah aku tidur duluan kalau gitu besok mau kekampus kamu"
"oh ya, jamber kak besok aku juga ngampus kok, mau cari referensi lagi"
"besok aku kabarin yah udah aku tidur dulu, btw sebelum tidur minta sayangnya dulu dong"
"hahahahah mwahhh dah gutnite have a nice dream" dengan emoticon kiss dan juga love
Jadian dan pacaran bak anak SMA seperti itulahawal mula dari sebuah bayangan kepastian oleh dia yang ku yakini dan selalu kuminta tuk menjadi imamku dalam 17 rakaatku. Dia yang menjadi notifikasi favoritdi ponselku dan juga mengisi hari-hariku kini menjadi kekasihku dia yangkemarin ku tangisi dengan ketidak jelasannya kini memberikanku kepastianhubungan meski itu hanya seorang pacar namun memiliki niat serius, aku bahagiapastinya kini kejelasan akan rasaku terungkap, kali ini rasa terpendam kumenjadi nyata tak ada lagi yang ku sembunyikan tak ada lagi rasa yangterpendam. 13 September 23:45 yang beberap menit lagi menuju 14 september aku dan kak Wawan Resmi berpacaran.


*****
CHAPTER VII
KOMITMEN

Kebahagiaan itu kamu yang ciptakan, kepercayaan dan komunikasi dalam suatu hubungan adalah kunci dari langgengnya hubungan.
*****
Pagi jum'at di 14 September 2018 menjadi pagi yang berbeda dari biasanya, ucapan good morning dan penyemangat dari orang yang tersayang kini menghiasi ponsel si gadis kecil, yang masih prepare menuju kampus untuk menyelesaikan tugas akhir. Senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya yang sudah permanent dan keceriaan yang selalu ia tampakkan menajadi ciri khasnya itulah Metha Aulia Renanda yang tengah bahagia menjalin kasih dengan si cowok dingin yang memiliki seribu teka teki dalam dirinya siapa lagi kalau bukan Wawan Anggara. Menuju kampus dengan penuh semangat ini perrtemuan pertama setelah adanya komitmen. Sembari menunggu kabar dari kak Wawan aku mengisi waktu mencari referensi di perpustakaan sekaligus untuk ngadem juga. Jam 09.15 ini matahari sudah agak tinggi dan hawa panasnya pun sudah terasa, menyusuri lorong buku dan arsip skripsi satu persatu mencari judul yang hampir sama dengan skripsi yang tengah di susun, ponselku bergetar pertanda notif chat ku buka pesan itu rupanya dari Iraa aku janjian untuk bertemu di ruang rektorat dimana lokasi kak Wawan dan teamnya bertemu dengan pimpinan kampus. Setelah menerima pesan dari Ira aku meninggalkan perpustakaan dan menancap gas menuju rektorat yang hanya menyebrang jalan melewati satu gerbang, ku parkir kendaraan dan memasuki ruang rektorat, ku dapati Ira bersama dua orang rekannya, rupanya mereka juga menunggu dosen yang sama sembari menunggu kami berselfi ria, dan bercanda gurau teman Ira yang satunya stengah cowok stengah cewek alias banci namanya Dito kami biasa memanggilnya Dit orangnya humoris loyal dan seru, selalu membuat lelucon aneh, asyik dengan lelucon Dito ponselku bergetar pesan dari kak Wawan yang rupanya sudah ada di kantin depan gedung perkuliahan, aku yang dari tadi berada di ruang rektorat tak melihatnya keluar dari ruangan salah satu pimpinan kampus, aku heran membaca pesannya yang sudah ada di kantin fakultas, penuh tanda tanya ku susul ia yang jaraknya tak jauh dariku, hanya 3-4 menit aku tiba di kantin, ngobrol-ngobrol soal kerjaannya dia dan kawan-kawannya mereka rupanya hanya ingin minum lalu kembali ke rumah kak Wawan untuk prepare dan istirahat karena sebentar malam akan kembali menuju kota daeng, aku yang juga sebentar malam akan berangkat membuka percakapan. Kak Wawan meninggalkan kami ke kasir.
"jadi, sebentar malam udah balik kak?"
"ia kerjaan disini udah kelar soalnya" saut si perantau yang namanya aku lupa.
"yahhh baru juga jadian udah LDR lagi dong yah?" timpal temannya yang satu yang namanya pun aku lupa
"hehehe, yahh kan besok ketemu lagi kak, sebentar malam rencananya sih mau ke makassar juga insyaAllah"
"yah udah bareng kita aja, kami cuman bertiga loh mobilnya kosong" ajak si perantau
"hehehe, malu akh kak, nggak enak juga sama kalian"
"loh kenapa? Kan ada Wawan, nanti biar kami yang ngomong, gimana?"
"hehehe insyaAllah kak" aku hanya cengengesan,
Dalam hati sih iyya mau banget tapi yang ngajak bukan kak Wawan jadinya agak bingung aja gitu lagian sebelumnya aku sudah ngasih tahu kak Wawan kalau aku juga akan berangkat sebentar malam, namun tak ada respon apa-apa darinya, bahkan selepas sholat jum'at selepas pertemuan dikantin itu aku sudah memberitahunya kalau aku tengah packing untuk keberangkatan sebentar malam dia hanya menginstruksikan aku untuk makan siang tak ada respon mengenai keberangkatanku, hingga waktu sore harinya ia mengajakku untuk jalan sore karena ia berangkat habis isya, awalnya aku menolak namun kembali ku iyakan dengan syarat tak bisa berlama-lama karena aku akan berangkat selepas maghrib namun ia membatalkannya hingga waktu yang tak ditentukan katanya. Ia sempat bertanya aku berangkat dengan siapa, kebetulan waktu itu inginku berangkat sendiri namun ayah tak mengizinkan dan kebetulan anak dari sahabat ayah juga akan berangkat ia meminta anak sahabatnya itu untuk barengan denganku, awalnya si anak sahabat itu mengiyyakan sampai akhirnya aku menunggu kabarnya yang tak kunjung datang, namun sebenarnya yang paling ku tunggu adalah kabar dari kak Wawan, waktu maghrib berlalu aku memutuskan untuk berangkat sendiri kabar yang ku tunggu dan harapkan tak kunjung datang akhirnya aku menuju terminal kota sembari berdoa semoga tiket bus masih ada untukku. Dan alhamdulillah tersisa satu tiket meski kursinya berada paling belakang setidaknya aku masih mendapatkan kursi bukan. Aku pamit pada kak Wawan via chat dan hanya ada balasan take care darinya, ia pun menginstruksikan aku untuk hati-hati dan tak perlu meninggalkan bus saat bus nantinya singgah dan masih banyak wejangan-wejangan lagi hingga akhirnya dia menanyakan siapa yang duduk di sebelahku, aku hanya menjawab seorang cowok. Nyatanya memang iya namun, yang duduk di sebelahku adalah mantanku selepas memesan tiket tadi saat menuju kursi rupanya ia ada dibelakangku, aku tak melihatnya hingga saat dia duduk disampingku aku dan dia kaget bertemu seseorang yang sudah lama tak bersua, yang lost kontak selama kurang lebih 4 tahun, rupanya ia juga satu tujuan denganku ntah apa yang direncanakan tuhan untukku hingga mempertemukan aku kembali dengannya secara tidak sengaja. Alka adalah mantanku semasa SMA hingga kuliah kami memutuskan pisah. Untuk pertemuan ini aku tak pernah membahasnya, tak menceritakan pertemuanku dan Alka pada kak Wawan hanya karena ingin menhindari pertikaian dan kesalah pahaman tak ada niat membohongi, tidak sama sekali hanya saja aku tak memiliki nyali untuk memberitahukannya, aku takut kak Wawan marah atau sebagainya dan untuk menghindari pemicu perselisihan di antara kita aku memilih untuk bungkam.
Di tengah perjalan masih dalam area kota Palopo kak Wawan menghubungiku memintaku untuk turun dari bus dan berangkat bersamanya aku tahu mungkin ia khawatir namun aku menolaknya, selain alasan malu aku juga tidak mungkin menyuruh supir bus untuk menurunkan aku, mungkin sebagian orang berpikir aku tak ingin turun karena ada mantanku namun percayalah bukan karena aku duduk dan bertemu kembali dengan mantanku aku menolak untuk turun itu bukan alasannya sama sekali bahkan tak ada pikiran untuk itu, hanya saja aku mempertimbangkan banyak hal hingga aku tak bisa meninggalkan bus, alhamdulillahnya kak Wawan mengerti itu. Tak banyak yang ku perbincangkan dengan Alka di perjalanan hanya persoalan kesibukan dan kerjaan tak lebih. Ponselku kembali bergetar pesan dari kak Wawan yang menyuruhku menunggu kabar kak Rifki yang akan menjemputku, rupanya kak Wawan sudah menghubungi kak Rifki untuk menjemputku, kurang gercep apa pacarku ini haha. Selang beberapa menit kak Rifki menghubungiku dan menyuruhku menghubunginya nanti ketika sampai. Aku hanya bisa mengiyyakan. Awalnya aku menolak tawaran kak Wawan untuk menerima kak Rifki yang menjemputku namun karena dianya ngotot jadi aku mengiyyakan. Aku tertidur beberapa menit sambil menunggu pesan dari kak Wawan hingga pukul 12 lewat kak wawan mengirimkan video, kakinya luka sontak saja aku kaget dan khawatir, ku spam ia via chat rupanya ia baru saja jatuh di salah satu drainase yang masih di bangun di pinggir jalan saat ingin keluar dari mobil aku khawatir ku instruksikan untuk mencari apotik atau swalayan untuk membeli obat merah dan air untuk membersihkan lukanya, rasa penyesalanku tiba-tiba hadir, seandainya aku mengikuti kemauan kak Wawan untuk ikut dengannya mungkin aku sendiri yang akan membersihkan lukanya, namun apa daya nasi sudah jadi bubur, kak Wawan menenangkan aku dengan kalimat ia baik-baik saja dan lukanya sudah di bersihkan dengan air, aku sedikit lega, ia kemudian mengirimkan aku sebuah foto yang ternyata foto itu adalah bus yang saat ini aku tumpangi, ia berada di belakangku, aku mengintip dari balik kaca ku lihat mobilnya tepat berada di belakang ku aku tersenyum kekhawatiranku hilang, semoga dia baik-baik saja Tuhan –doaku dalam hati-.
****
Makassar 15 September 03.30 Subuh. Aku turun tepat di halte bus dan langsung menghubungi Kak Rifki yang dari tadi menunggu kabar dariku, lokasi yang tak jauh dari terminal sudah ku kirimkan hanya butuh beberapa menit ia menemukanku dan kami langsung menuju salah satu rumah keluarganya. Tak lupa aku mengabari kak Wawan, adzan subuh sudah berkumandang pas saat kami memasuki gerbang rumah. ku letakkan ranselku di sofa dan menuju ke mesjid bersama kak Rifki. Setelah itu kami kembali ke rumah, aku menghubungi kak Wawan untuk mengetahui lokasinya saat ini. sepertinya kak Rifki sudah mencium aroma-aroma komitmenku dengan kak Wawan tapi ia hanya diam dan cengengesan melihat tingkahku. Kak Wawan mengangkat telfonku dan ia sudah sampai sekarang menuju kantor mengantar kawan-kawannya lalu kembali ke kostan. Aku menanyakan lukanya namun rupanya belum ia bersihkan, dan sebentar pagi ia akan menyusulku dan kak Rifki. Kak rifki menyuruhku untuk istirahat. Namun aku belum ngantuk, aku masih ingin bercerita ria dengannya. Karena sebentar sore aku akan ke kostan milik sahabatku Yana. Hingga adzan Dzuhur berkumandang aku pamit sholat, selepas sholat ku rebahkan badanku di atas kasur sembari membalas pesan dari kak Wawan hingga mataku terpejam dan mulai tertidur. Tepat pukul 14.00 aku terbangun ponselku masih berada di genggamanku. Ku tatap layar ponsel sembari melihat jam dan tak lupa membuka roomchat whatsaap ku lihat chat dari kak Wawan yang sebentar lagi akan menemuiku. Ku kumpulkan nyawaku dan beranjak dari tempat tidur menuju ruang tamu, ku dapati kak Rifky yang tengah asyik cerita bersama saudara sepupunya.
"eh sudah bangun tha?"
"iyya kak, udah hampir azhar yah? Aku ke toilet dulu kak" pamitku meninggalkan mereka yang masih asyik cerita
"iyya, jangan lupa habis itu makan siang yah, makanan ada di meja makan tha" teriaknya
Ku bersihkan wajahku dan kembali kek kak Rifky, ia menuju ruang makan akupun mengikutinya bersama dua orang sepupunya. kunikmati santap siang dengan ocehan tawa dari mereka sesekali kak Ilham meledek kak Rifky dan berebut tahu tempe. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka. Selesai makan kami kembali ke ruang tamu, suara motor yang tetap berhenti depan rumah membuat kami saling tatap satu sama lain.
"kamu sudah hubungin Wawan tha?" tanya kak Rifki
"iyya sudah kak, katanya dia sholat dulu baru nyusul" jawabku
"nah mungkin itu dia"
Belum sempat ku jawab kak Wawan sudah ada depan pintu dengan dua bungkus Batagor yang dipegang di tangan kanannya.
"Assalamu Alaikum"
"waalaikum salam"
"panjang umur, pucuk dicinta ulampun tiba hahaha" sambut kak Rifki
"hahah njay lu Rif," jawab kak wawan sembari meletakkan batagor di atas meja.
"eh makan nih"
"buits tahu juga lu wan kalau kita lagi butuh ginian, buat cuci perut" saut kak Ilham
Kami pun semua tertawa dengan tingkah sepupu kak Rifki ini. Kak Wawan duduk di depanku, aku tak banyak bicara menyambutnya karena sedari tadi luka di kakinya yang mulai mengering menjadi fokus perhatian ku, segera ku minta semangkuk air hangat dan secarik kain pada kak Rifki lalu menarik kaki kak Wawan ku selonjorkan kakinya tepat di depan ku dan mulai membersihkan luka yang masih penuh dengan darah beku, ku lap secara perlahan sembari meniupnya, kak Wawan yang sedikit menjerit mulai meringis, ku akui itu memang perih aku sengaja menekan keras Lukanya sambil cengengesan melihat tingkahnya yang kesakitan, kak Rifki pun ikut menimpali menjadi kompor bagi kami berdua dengan menertawakan dan mengejeknya. Puas menjahili kak Wawan kami hanyut dalam cerita konyol dan canda tawa hingga waktu ashar pun tak terasa. Kami mulai bersiap-siap untuk beranjak dari zona nyaman ini, kedua seniorku ini akan meengantar ku ke kostan sahabat SMP ku Rashya, awalnya aku ingin ke Yana tapi waktu mepet dan jarak dari lokasi ku sekarang lumayan jauh aku akhirnya memilih Rashya yang lokasinya lebih dekat. Aku berboncengan dengan kak Rifki kak Wawan jalan sendiri. Hanya beberapa menit melewati jalan dan beberapa gang kami tiba mereka pun pamit aku menatap mereka hingga punggung keduanya tak lagi terlihat dari pelupuk mataku dan segera masuk ke dalam rumah. Selang beberapa menit chat Yana masuk ia ingin menjemput ku, aku pun tidak bisa menolak tetapi Rashya juga menahan ku untuk nginap semalam dengannya, situasi yang dilema, akhirnya aku memutuskan untuk tetap ke Yana namun aku berjanji sehari sebelum balik aku akan nginap dengan Rashya Alhamdulillah ia mengerti, sahabat ku yang satu ini pengertiannya tidak pernah berubah sejak mengenalnya. Aku memberi tahu kak Wawan kalau aku akan nginap di Yana yang sebentar lagi menjemput ku, kak Wawan mengiyakan.
Maghrib menjemput, setelah beberes diri dan sholat ku selonjorkan badan sambil bermain sosial media, dan paastinya chatan ria, ku buka Instagram, dan langsung saja ku lihat postingan foto kak Rifki berlatar Senja dan pantai langsung saja ku DM dianya,
"Kak Rifki ini dimana? Kerennnnn oey" 
"Lah kan tadi diajak tapi kaliannya nolak, nyesel kan sekarang "
"Kapan kak seriusan itu view-nya keren huuu jahat ini mah nggak ngajak-ngajak" balasku 
" Sotoy, tadi udah di ajak Oey, yaudah bsok kita kesana, semoga senjanya dapat" 
"Seriusan, hayuks kak aku penikmat senja hahahh" 
"Iyya, besok jam 4 habis ashar kita otw, kamu ajak Wawan gih" 
"Ashiyap ntar aku ajak kak" 
Chat berakhir planning ke pantai pun masuk ke dalam list weekend.
*****

Minggu sore 16 September prepare untuk ke pantai bertiga dengan kak Wawan dan Kak Rifki, aku di jemput sendiri oleh kak Rifki, kak Wawan katanya sedang isi bensin di SPBU terdekat dan akan bertemu di sana. Kami langsung berangkat ke lokasi menyusuri jalan Malengkeri menikmati perjalanan menuju pantai hanya butuh 15 menit akhirnya kami tiba. Pantai Biru yang terletak di pinggiiran kota dengan pasir dan desiran ombak yang indah menemani soreku menikmati hembusan angin dengan diapit dua cowok manis yang masih berdiri di kanan kiriku mencari tempat dan spot untuk berfoto. Berlari melepas sepatu dan tasku menuju pinggiran pantai. Aku benar-benar bahagia Kak Wawan dan kak rifki hanya tertawa melihat tingkah ku bak anak kecil yang bermain air dengan tawa riang. Kak Wawan mengabadikan moment itu merekam tingkahku begitu juga dengan kak Rifki yang masih sibuk mencari view sebagai backgroud foto. Senja mulai menampakkan diri. Puas berlarian kesana kemari bermain air aku menghempas tubuhku di atas pasir dengan kedua lutut yang bersilang. Ku tatap senja itu dengan segala harap dalam hati. Kak Wawan masih setia di sampingku ia juga menatap senja itu sembari mencari fokus untuk memotret. Sekilas Aku melihat senyuman manis tipis dari bibirnya. Dalam hati aku berterima kasih pada Tuhan telah memberikan keindahan di hadapanku telah mengirimkan sosok yang semoga kelak bisa membawa kebahagiaan utuh untukku sama seperti senja yang kini sedangku tatap. Kami mulai berfoto ria mengabadikan momen bahagia itu sang Senjapun perlahan mulai menghilang dan sebentar lagi akan di gantikan dengan gelapnya malam dan adzan maghrib menjadi pertanda. Kami pamit, suatu saat nanti kami akan kembali lagi menemui sang senja –ucapku-.

***

Tiba di kostan aku langsung membersihkan diri kaki dan jeansku penuh dengan pasir Yana yang melihatku hanya menggelengkan kepala. Aku bergegas sholat maghrib juga istirahat. Namun nyatanya malam itu aku diajak Yana untuk jalan bersama dengan teman-temannya. Kostan sunyi yang penghuninya sedang sibuk di luar dengan urusan masing-masing membuat ku mengiyakan ajakan Yana.

Mengunjungi beberapa tempat dari Mall Panakukang kami ke pantai losari yang menjadi alun-alun kota Makassar. Makan malam juga berbagi cerita dan pengalaman sampai waktu tak terasa menunjukkan pukul 10.00 Bersamaan pula dengan chat kak wawan yang menyuruhku untuk balik ke kostan. Waktu bermain anak gadis telah usai. kami kembali ke kostan dan  istirahat.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar